Hari Guru Sedunia, Memotret Kiprah Para Guru Ngaji/ Dai Daiyah di Pedalaman

Dipublikasikan : 06 Okt 2025

Hari Guru Sedunia, Memotret Kiprah Para Guru Ngaji/ Dai Daiyah di Pedalaman

LAZNAS Dewan DakwahPahlawan tanpa tanda jasa, itulah slogan yang kerap kali disematkan kepada para guru. Tanggal 5 Oktober, dunia memperingati Hari Guru Sedunia sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa para guru yang tak kenal lelah mendidik generasi masa depan. 

Hari guru sedunia 2025 mengusung tema Recasting teaching as a collaborative profession atau “Menata ulang profesi guru sebagai profesi kolaboratif.” Sejak pertama kali dicanangkan oleh UNESCO 5 Oktober 1994 lalu, momen ini tidak hanya menjadi ajang refleksi, melainkan juga seruan untuk bertindak, mendorong semangat para pendidik, memberikan perhatian global atas tantangan yang mereka hadapi, serta memperkuat upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh dunia.

Guru Pedalaman, Lentera di Tengah Keterbatasan

Namun, peringatan ini tidak hanya ditujukan bagi guru yang mengajar di kelas perkotaan dengan fasilitas memadai. Lebih dari itu, momentum ini juga menjadi milik para pendidik yang mengabdi di pelosok negeri. Mereka yang rela menembus medan yang sulit, berjuang di tengah berbagai keterbatasan, dan dengan penuh kesabaran menyalakan lentera ilmu di tempat-tempat yang jauh dari sorotan. 

Di sana, mereka hadir tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga penggerak sosial, pembimbing moral dan penyemai peradaban dari pedalaman, perbatasan, dan daerah terisolir.




Kiprah Dewan Dakwah Sejak 1968

Semangat inilah yang terus dihidupkan oleh Dewan Dakwah sejak 1968, melalui pengiriman kader dakwah untuk mengemban amanah di berbagai penjuru negeri hingga pedalaman. 

Hingga kini, upaya itu terus berlanjut melalui sinergi STID M. Natsir dengan LAZNAS Dewan Dakwah, yang setiap tahunnya melepas ratusan dai dan daiyah muda ke seluruh provinsi di Indonesia. Mereka mengemban peran ganda, sebagai guru spiritual yang membimbing keimanan, sekaligus pendidik yang menyalakan harapan lewat ilmu dan teladan.

Perjuangan Dai dan Daiyah 

Tahun ini, sebanyak 225 dai dan daiyah muda terbaik kembali diberangkatkan. Mereka hadir tidak hanya untuk mengajar, tetapi juga memberdayakan masyarakat yang dibinanya dari pendidikan, kesehatan, pembangunan, akses komunikasi, hingga ketahanan pangan. 

Mereka dikirim ke medan-medan berat, ke wilayah yang bahkan belum pernah tersentuh guru maupun sekolah formal sebelumnya. Tak jarang di antaranya yang harus memulai dari nol membina umat.



Ada yang setiap harinya harus jalan kaki naik turun gunung berjam-jam, menyeberangi sungai atau laut, berpindah dari satu pulau ke pulau lain untuk menjangkau masyarakat.

Ada pula yang harus gelap-gelapan setiap malam dan terputus akses dari dunia luar lantaran listrik dan jaringan komunikasi yang terbatas bahkan belum menjangkau wilayah binaan.

Namun, keterbatasan bukanlah penghalang, justru penguat tekad, sebagai penggerak agar tak patah langkah di tengah jalan. 

Suara dari Pedalaman

Seorang dai yang kini mengabdi di pedalaman Ngoyo, Morowali Utara, menuturkan: 
“Guru tidak hanya berperan pada dunia pendidikan, tapi juga pada segala aspek kehidupan dunia, sebagaimana mantan Perdana Menteri Jepang, Takeo Fukuda, pernah mengatakan, berita wafatnya Mohammad Natsir lebih dahsyat daripada hancurnya Hiroshima dan Nagasaki karena bom. Demikian besarnya pengaruh seorang guru dalam kehidupan umat.”



Hal senada disampaikan oleh seorang daiyah yang telah lima tahun mendampingi masyarakat pesisir:
“Setiap dari kita adalah guru untuk diri sendiri, yang mengajarkan untuk sabar, tekun dan bertekad untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan hanya dalam ilmu dunia tapi juga ilmu akhirat. Kami memang tidak sempurna, namun dengan hadirnya kami di tengah masyarakat memberi warna tersendiri sekaligus rasa aman guna berkembangnya pengetahuan bagi masyarakat awam.”


Dari Keterbatasan Menjadi Harapan.

Bukti nyata kiprah dai daiyah telah dirasakan langsung oleh masyarakat binaan. Bagi warga pedalaman, kehadiran dai bukan hanya pengajar yang mengisi sekolah-sekolah mereka, tapi juga sahabat yang mendukung harapan anak-anak untuk mewujudkan mimpi besar mereka. Penggerak ekonomi yang membimbing usaha mereka, bahkan tenaga kesehatan yang peduli gizi dan kesejahteraan keluarga. 

Selamat Hari Guru Sedunia. Setiap huruf yang diajarkan, dieja, dihafalkan, dan diamalkan, menjadi jariyah ilmu yang tidak terputus.

Mari dukung terus dakwah para guru/da’i-da’iyah di pedalaman - penjuru negeri. Jadilah bagian dari estafet dakwah mereka. Tak terkenal di bumi, namun terkenal di langit.

Bagikan :

Berita Lainnya

Artikel Sejenis