LAZNAS Dewan Dakwah - Hidup sebagai muslim minoritas bukanlah perkara mudah, namun di Makula, semangat dakwah perlahan menghidupkan kembali harapan.
Kehadiran Dai Bangun Kembali Keislaman Mualaf
Belum pernah ada dai yang bertugas di dusun kecil itu, hanya pernah ada kafilah dakwah yang sempat membimbing warga minoritas muslim selama ramadhan. Dan sudah setahun berlalu sejak saat itu. Kini mushola yang masih baru berdiri di sana kehilangan nafas. Hingga akhirnya kedatangan dai muda, Ustadz Ahmad Khaidir perlahan membawa perubahan dan nafas tauhid bagi para mualaf di sana.
Kampung Makula namanya, salah satu dusun di Desa Lembang Mesakada di Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan. Hanya ada 15 KK muslim di sana yang menjalani keseharian yang masih jauh dari panduan syariat.
Mushola yang Vakum Kembali Hidup
Musholla Al-Hidayah, satu-satunya tempat ibadah umat Islam di Dusun Makula. Muhsola itu baru berdiri November 2024 lalu. Sudah hampir setahun wakum, adzan tidak terdengar, tak ada sholat berjamaah, bahkan masyarakat setempat mengakui tidak ada yang berinisiatif menghidupkan kembali musholla tersebut.
Hal ini dapat dimaklumi, karena jumlah umat Islam di Dusun Makula sangat sedikit. Mayoritas penduduk adalah penganut Katolik, sementara Muslim hanyalah minoritas dan sebagian besar merupakan mualaf.
Sehari setelah kedatangan Ustadz Khaidir, mushola Al Hidayah dan pekarangan sekitarnya dibersihkan. Siang itu juga, mushola tersebut dapat digunakan shalat berjamaah dan tempat anak-anak mengaji.
“Kami saling menghargai dan menghormati di sini, tidak saling mencela meskipun berbeda agama. Kami sangat menanti kedatangan dai yang bisa membina warga terutama anak-anak di kampung ini,” tutur bapak Sodding, kepala dusun Makula yang juga seorang kristiani.
Anak-anak Makula Kini Bisa Belajar Ngaji karena Ada Dai
Keislaman yang sudah lama pudar, terlebih dengan bermacam-macamnya agama di dusun Makula, menjadi tantangan tersendiri bagi Ustadz Khaidir untuk mengajak masyarakat aktif kembali, khususnya anak-anak. Mereka belajar Islam tergantung ada tidaknya ustadz.
“Pengaruh lingkungan sekitar yang membuat anak-anak di kampung Makula terutama anak-anak yang beragama Islam tidak bersemangat datang mengaji dikarenakan pergaulan mereka dengan teman sebayanya, selain itu juga karena kurangnya motivasi, arahan, dan bimbingan dari orang tua mereka. Apalagi di sini mayoritas Kristen jadi agak susah diajak untuk datang ke mushola untuk sholat dan belajar ngaji,” tutur Ustadz Khaidir.
Namun demikian, beberapa anak udah mulai datang mengaji, 4 orang. Meski masih sedikit, Ustadz Khaidir berharap mereka akan terus bertambah nantinya.
“Alhamdulillah mereka sudah mengaji selama kami berada di tempat mukim mushola, jamaah mushola pun kini sudah ada 3 orang yang rutin shalat berjamaah,” tambahnya.
Mushola Al Hidayah yang baru berdiri satu tahun itu sayangnya belum memiliki tempat wudhu, sehingga jamaah harus berwudhu dari rumah masing-masing atau numpang di rumah warga yang dekat dengan mushola.
Alhamdulillah, proses pembangunan tempat wudhu untuk mushola Al Hidayah kini hampir rampung berkat bantuan donatur dan kerjasama warga dengan da'i.