Menembus Kabut Manggarai Timur: Perjalanan Ustadz Wahyu 4 Kilo Pulang Pergi Membina Mualaf

Dipublikasikan : 23 Feb 2026

Menembus Kabut Manggarai Timur: Perjalanan Ustadz Wahyu 4 Kilo Pulang Pergi Membina Mualaf

LAZNAS Dewan DakwahBagi sebagian orang, perjalanan adalah tentang destinasi yang indah. Namun bagi seorang dai asal Teluk Mesjid, Riau, perjalanan menuju tempat tugasnya di pelosok Nusa Tenggara Timur adalah ujian fisik dan mental yang nyata.

Mengarungi lautan selama 18 jam, dilanjutkan dengan menempuh jalur darat menggunakan "Oto"—truk besar khas Manggarai—selama 9 jam di atas jalanan berbatu dan berlubang, meninggalkan kesan yang tak terlupakan oleh ustadz Wahyu Ilahi. "Setelah sampai, saya tidak bisa duduk dengan nyaman selama tiga hari karena guncangan hebat selama perjalanan pegunungan itu," kenangnya.

Menghidupkan Kembali Suara Adzan

Tiba pada 22 Agustus 2025 di Kecamatan Elar,dai muda Dewan Dakwah itu mendapati kondisi yang sangat memprihatinkan. Sejak pandemi Covid-19 melanda, wilayah ini seolah terlupakan dari sentuhan bimbingan agama. Masjid-masjid sunyi, dan suara azan jarang terdengar bahkan tidak terdegar.

Empat bulan pertama Ustadz Wahyu berdakwah di satu kampung, Kampung Kalo. Nmaun karena kebutuhan dai di kampung sebelah ia kini memegang amanah di dua kampung sekaligus: Kampung Kalo dan Kampung Buntang.


Tantangannya tidak main-main. Di Kampung Kalo, akses air bersih sangat sulit; warga harus mandi di pancuran pinggir jalan tanpa sekat yang layak, bercmapur antara lelaki dna perempuan. Demi menjaga adab dan kenyamanan tugas, ia memilih bermukim di Kampung Buntang yang berjarak 4-5 km dari lokasi tugas utamanya.

Baca Juga: Dari Sahadat Massal Menuju Pembangunan Berkelanjutan di Gunung Tua

Setiap hari, ia menempuh jarak tersebut dengan berjalan kaki menanjak dan menurun di topografi pegunungan. Kadang jika beruntung, warga yang memiliki kendaraan menjemputnya. Namun lebih sering, peluh keringatnya menjadi saksi bisu pengabdian di jalan Allah.

Berdakwah di dua kampung dengn jarak yang berjauhan, Ustadz Wildan harus menyusun jadwalnya.

* Senin - Kamis dan sabtu mengajar TPA anak anak setelah Ashar. * Jumat sore sekitar jam 4 sore dan Rabu Pagi sekitar jam 9 pagi mengajar majelis ta'lim ibu ibu di Kampung Kalo. * Jumat Pagi sekitar jam 9 mengajar majelis ta'lim ibu-ibu di Kampung Buntang. * Jumat siang Imam dan Khutbah Jumat setiap pekan. * Setiap hari azan dan imam shalat


Melawan Jahiliah dengan Kesabaran

Di awal kedatangannya, dai Dewan Dakwah tersebut mendapati pemandangan sehari-hari seperti aktivitas judi, konsumsi khamr, hingga cara berpakaian yang jauh dari syariat menjadi santapan mata. Namun, perlahan tapi pasti, kehadirannya membawa perubahan:

Masjid yang Hidup: Dari masjid yang terbengkalai, kini jamaah shalat Jumat meningkat hingga 45 orang. Progres perubahan spiritual warga melonjak hingga 60%.

Bimbingan TPA & Majelis Ta’lim dan mualaf: Dari Senin hingga Sabtu, anak-anak kembali mengaji. Ibu-ibu pun antusias mengikuti pengajian mingguan meski harus di tengah keterbatasan sarana.

Meninggalkan Kebiasaan Lama: Warga mulai meninggalkan perkara-perkara jahiliah dan bidah, beralih pada ibadah yang lebih sesuai tuntunan.

Baca Juga: 5 Tahun Tanpa Pembinaan, Ustadz Awi Hadir di Pedalaman Tanpa Listrik dan Jaringan

Toleransi di Tanah Minoritas

Menariknya, meski Ustadz bertugas di wilayah mayoritas Kristen, keharmonisan tetap terjaga. Di Kampung Buntang, di mana muslim menjadi minoritas, ikatan kekeluargaan antar-umat beragama sangat kuat. "Perbedaan agama tidak membuat mereka berjarak, mereka justru saling mendukung dalam kekeluargaan," ungkapnya.

Hal ini juga karena tidak sedikit keluarga sedarah yang berbeda agama.

Di sela kesibukannya membina umat, Ustadz Wahyujuga belajar mandiri dengan menanam pohon cabai dan tomat untuk kebutuhan sehari-hari. Ia tahu, hidup di wilayah yang butuh 10 jam perjalanan hanya untuk membeli beras di kota membutuhkan ketangguhan luar biasa.


Harapan di Balik Bukit

Meski semangatnya membara, kebutuhan akan sarana prasarana seperti akses air bersih (sanitasi), kendaraan dakwah, serta kebutuhan pokok menjadi doa-doa yang ia langitkan. Baginya, berjalan kaki 4 km setiap hari adalah pengabdian, namun memiliki kendaraan dakwah berarti lebih banyak umat yang bisa ia sapa dengan lebih cepat.

Ustadz Wahyu tidak hanya membawa ilmu, ia membawa harapan bahwa di pelosok Manggarai Timur yang terdalam sekalipun, cahaya Islam akan tetap menyala selama ada jiwa yang rela "mabuk perjalanan" dan menembus jalan bebatuan demi tegaknya kalimat Allah.

Para dai dan daiyah yang dibiayai oleh donatur LAZNAS Dewan Dakwah telah membawa perubahan nyata di berbagai wilayah di penjuru negeri. Yuk, jangan lewatkan kisah dai dan daiyah muda lainny dalam Membangun Negeri dari Pedalaman.

Turut ambil bagian dalam perubahan besar. Sampaikan donasi kegiatan dakwah sahabat melalui LASNAS Dewan Dakwah.

Bagikan :

Berita Lainnya

Artikel Sejenis