“Apakah pohon petai sudah dekat?” tanyanya
“Ini baru permulaan bang, kita masih harus melewati tiga bukit lagi.”
Jawaban itu membuat Ustadz Awi terdiam. Rasa terkejut bercampur takjub. Bagaimana tidak, sementara kakinya mulai berat dan tubuhnya terasa melemah, warga di depannya tetap melangkah ringan, wajah mereka tenang tanpa gurat kelelahan sedikit pun, seolah stamina mereka tak pernah habis.
Hari itu, ia memutuskan mengikuti warga mencari hasil hutan, salah satunya petai di TNBT. Dalam pikirannya, perjalanan itu akan seperti pendakian biasa, mungkin melelahkan, tapi bisa diukur. Namun, kenyataannya jauh di luar dugaan.
Ritme berjalan para warga begitu cepat dan stabil. Mereka menanjak dan menuruni lereng curam tanpa ragu, seolah medan berat itu hanyalah jalan biasa di depan rumah. Sementara Ustadz Awi harus berjuang keras menjaga keseimbangan di antara bebatuan licin dan akar-akar besar yang melintang.
Suku Talang Mamak, Puluhan Tahun Hidup tanpa Jaringan dan Listrik
Suku Talang Mamak, suku pedalaman Riau yang menggantungkan hidupnya secara tradisional di sepanjang aliran sungai Indragiri dan kawasan Taman Nasional Tiga Puluh (TNBT).

Tanpa pencahayaan dan jaringan, mereka memutar perekonomian dengan mengambil damar, yaitu getah pohon yang besar serta mengambil hasil hutan lain yang bisa dijual seperti petai.
Di tengah penduduk pedalaman inilah, dai Dewan Dakwah, Ustadz Awi Andrizal memulai perjalanan dakwahnya, tepatnya di Dusun Nunusan, Desa Rantau Langsat, Kec, Batang Gangsal, Kab. Indragiri hulu, Riau.
Perjalanan Ekstrim ke Dusun Nunusan, Desa yang Tidak Terdata di Maps
Entah kali keberapa Ustadz Awi dan rombongan turun dari perahu kayu yang mereka tumpangi saat menyusuri sungai Batang Gansal agar perahu tersebut lebih ringan ketika melewati arus jeram.
“Perjalanan menuju lokasi dakwah sangat extrim karena melewati banyak batu² yang besar serta sungai yang deras. Beberapa kali kami turun dari perahu kayu agar perahu lebih ringan ketika melewati arus jeram tersebut,” ujar Ustadz Awi.
Perjalanan lewat jalur air tersebut ditempuh beberapa jam setelah perjalanan darat dari pusat Kota Kabupaten, yakni kota Rengat.
Dusun Nunusan, dusun tersebut terpisah jauh dari desa induknya, desa Rantau Langsat. Hanya ada satu jalur menuju ke dusun itu, yaitu jalur sungai. Perjalanan hanya bisa ditempuh dengan perahu kayu selama dua sampai lima jam, tergantung kondisi ketinggian air.
Medan tempuh yang sulit dan letak dusun yang terpencil tanpa ada listrik yang menerangi dan sinyal telekomunikasi.
Aktivitas mandi, bersuci, mencuci, hingga buang hajat pribadi, dilakukan di tepian sungai. Begitu hari mulai gelap, dusun Nunusan bgai dusun Mati.
5 Tahun Tanpa Pembinaan Agama, Warga Desa Nunusan selalu Menanti Kedatangan Dai
Sekitar 4 hingga 5 tahun yang lalu, ustadz terakhir memberikan pembinaan agama di desa Nunusan. Setelah itu, suku Talang Mamak yang telah berIslam disana hanya mendengar khutbah setiap jum’at dari mushola kecil mereka.
Mendengar kabar kedatangan dai yang ditempatkan khusus di desa Nunusan, mereka tak berhenti bertanya: Apakah ustad tersebut jadi datang, kapan ustadznya akan tiba, dan pertanyaan pertanyaan sejenis.
Kedatangannya pun di sambut dengan hangat, banyak di antara mereka yang menawarkannya untuk mukim di rumah masing-masing.
“Respon masyarakat sangat terbuka dan menerima dengan baik. Bahkan seminggu sebelum saya datang mereka sudah bertanya ke salah satu mahasiswa yang kuliah di STID M. Natsir, apakah jadi ke tempat dusun mereka,” terang dai muda asal Aceh tersebut.
Dari Mushola Kecil Pedalaman, Dakwah Tetap Menyala
Tidak mudah untuk membentuk rutinitas masyarakat pedalaman untuk mengikuti kajian rutin. Terlebih mereka mengandalkan hidup dengan bergantung pada alam.
Dari pagi pukul 07.00 hingga petang hari, masyarakat desa masuk hutan untuk mencari damar. Bukan hanya para orangtua, anak-anak pun ikut keluar masuk hutan mengambil damar. Namun demikian, tidak setiap saat mereka memperoleh damar.
“Terkadang masyarakat tidak dapat membeli beras karena tidak dapat hasil dari hutan tadi,” kata Ustadz Alwi
Karena itu, Ustadz Awi beberapa kali ikut menyusuri hutan belantara, selain memusatkan dakwahnya di mushola kecil, Nurul Huda, dan berdakwah dari rumah ke rumah.
Baca Juga: LAZNAS Dewan Dakwah Gelar Workshop Pemberdayaan ekonomi Umat di Tiga Provinsi
Dengan Emergency Lamp dan Papan Tulis Kapur, Anak-anak Talang Mamak Belajar Mengaji
Mengajar anak-anak Talang Mamak menjadi aktivitas dakwah utama Ustadz Awi. Dari pagi hingga siang hari, ia mengajar anak-anak SD.

Sebuah sekolah rintisan, kelas Filial, berdiri di dusun Nunusan. Di sanalah anak-anak suku Talang Mamak mengenal pendidikan. Namun, banyak dari mereka yang tidak bisa melanjutkan pendidikan bahkan tidak sedikit yang harus berhenti di tengah jalan lantaran biaya yang kurang.
Meski demikian, anak-anak tersebut begitu bersemangat datang ke sekolah, setiap hari mereka berjalan kaki, ada yang menempuh jarak satu jam perjalanan lebih tanpa menggunakan sepatu dan alas kaki.
Anak-anak itu tidak hanya belajar, mereka juga keluar masuk hutan sepulang sekolah untuk mencari damar.
Belajar Ngaji di Temaram Malam
Meski kelelahan sepulang dari hutan, anak-anak pedalaman tersebut tetap hadir mengaji selepas maghrib bersam Ustadz Awi.
Diterangi lampu led atau lampu darurat portabel, mereka mengeja huruf demi huruf di papan tulis kapur.
Dusun yang tadinya sunyi tersebut, perlahan hidup sejak kehadiran ustadz Awi. Suara lantunan doa dari mushola kecil di tengah hutan terpencil mengisi malam-malam hening dusun Nunusan.
Menjadi Dai Bukan Berarti Hanya Pandai Berdakwah dari Mimbar
Perjalanan dakwah memang menuntut seorang da'i untuk bisa melakukan apa saja yang masyarakat butuhkan. Bukan hanya mengisi ruhaniah mereka, tpi juga siap sedia hadir dalam keseharian mereka.
Terlebih pengabdian di dusun terpencil yang sangat jauh dari dunia luar, butuh penyesuaian diri yang luar biasa.

Selain turut membantu masyarakat mencari hasil alam dengan menyusuri hutan, Ustadz Awi juga membaur dalam berbagai kegiatan mereka, membantu mereka memperbaiki jalan, panen jengkol dan pete, hingga memberikan layanan cukur gratis kepada penduduk pedalaman tersebut.
Satu persatu anak ia cukur dengan telaten. Tak hanya anak-anak, pria dewasa pun turut meminta untuk dicukur oleh Ustadz Awi.
Para dai dan daiyah yang dibiayai oleh donatur LAZNAS Dewan Dakwah telah membawa perubahan nyata di berbagai wilayah di penjuru negeri. Yuk, jangan lewatkan kisah dai dan daiyah muda lainnya. Dukung dan ikuti perjalanan mereka dalam Membangun Negeri dari Pedalaman.
Turut ambil peran dalam perubahan besar, sampaikan donasi kegiatan dakwah sahabat melalui LAZNAS Dewan Dakwah.
---
Oleh; Nur Aisya