Dari Langkah Kecil Lahirkan Generasi Qur'ani, Dakwah Ustadzah Aisyah di Tamalanrea

Dipublikasikan : 20 Feb 2026

Dari Langkah Kecil Lahirkan Generasi Qur'ani, Dakwah Ustadzah Aisyah di Tamalanrea

LAZNAS Dewan DakwahDari Jakarta daiyah muda tersebut kembali ke Bumi Sulawesi, amanah dakwah membawanya menginjakkan kaki di tanah Celebes tersebut, meski berbeda provinsi dengan tanah lahirnya.

Ustadzah Aisyah, salah satu Daiyah penggabdian Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) sudah hampir enam bulan ini membersamai santri di Pondok Pesantren Tahfidz Ahlul Qur'an Putri di Tamalanrea,Kota Makassar, Sulawesi Sekatan.

Daiyah muda asal Kolaka, Sulawesi Tenggara itu merupkan daiyah pertama Dewan Dakwah yang ditempatkan di sana.

Menjadi yang Pertama di Tanah Pengabdian

"Alhamdulillah, rasanya sangat bahagia. Allah menakdirkan saya untuk mengabdi di Sulawesi (Selatan)," ungkapnya. Meski berada di wilayah yang berbeda dengan daerah asalnya, semangat kekeluargaan dari para asatidzah dan antusiasme santri langsung membuatnya merasa diterima.


Meski berbeda provinsi, namun tak ada kendala dalam penyesuaian diri dan bahasa.

Baca Juga: Cahaya yang Kembali Menyala di Pelosok Lampung, Jejak Dakwah Ustadzah Darlina

Dedikasi Tanpa Jeda: Dari Tahajjud hingga Halaqah Malam

Kehidupan Aisyah di pondok adalah cerminan disiplin tingkat tinggi. Ia menetap (mukim) bersama para santri, memastikan setiap detik di pondok bernilai ibadah. Bayangkan saja ritme kesehariannya:

03:00 - 05:30: Memulai hari dengan Tahajjud berjamaah dan Subuh.

Pagi & Siang: Memimpin Halaqah Al-Qur'an dan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) yang terstruktur.

Sore: Mengajar TPA untuk anak-anak warga sekitar.

Malam: Menutup hari dengan Halaqah malam hingga pukul 21:00.

• Serta kegiatan keasramaan seperti muhadarah, mufradat, kajian ba'da isya, senam, matan dan hadis, dzikir bersama, dll.


Di sela-sela itu, ia masih mengemban amanah sebagai pengurus Muslimah Markaz Al-Qur'an bagi ibu-ibu di Makassar. Baginya, waktu adalah amunisi dakwah yang tidak boleh terbuang percuma.

Dakwah "Jemput Bola": Dari Pintu ke Pintu

Dedikasi Aisyah teruji ketika ia melihat anak-anak di sekitar pondok belum memiliki wadah belajar Al-Qur'an yang rutin. Tak ingin hanya berdiam diri di dalam asrama, ia bersama rekannya melakukan aksi "jemput bola".

Mereka menyusun brosur, mencetak selebaran, dan mulai menyusuri pemukiman warga di sekitar Tamalanrea. Door to door, satu per satu pintu rumah ia ketuk untuk mengajak anak-anak belajar mengaji secara gratis.

"Awalnya hanya ada tiga anak yang datang," kenang Aisyah. Namun, usaha yang dilakukan dengan hati itu membuahkan hasil. Pelan tapi pasti, dari yang sebelumnya hanya ada 3 anak di awal-awal kegiatan TPA, jumlahnya kini bertambah menjadi 10 anak. Baginya, melihat anak-anak yang tadinya lupa huruf hijaiyah kini mulai lancar membaca Al-Qur'an adalah upah yang tak ternilai harganya.


Anak-anak kecil yang tadinya belum fasih dan suka lupa melafalkan huruf hijaiyah itu, kini sudah mulai lancar bahkan beberapa sudah dalam tahap Iqra. Dan hingga sekarangg mereka terus rutin mendatangi Ponpes untuk dengan semangat setiap sorenya.

Baca Juga: Harapan Baru di Lengkong Kawu, MAsjid Pertama Hadir Setelah 40 Tahun Pengabdian

Perubahan Karakter dan Keteladanan

Di dalam asrama, Aisyah tidak hanya mengajar hafalan, tapi juga membenahi adab. Sebagai pengajar yang menetap (mukim), ia memantau santriwati dari Tahajjud jam tiga pagi hingga istirahat malam.

Pendekatan "dari hati ke hati" yang ia terapkan mulai mengubah suasana pondok. Santri yang dulunya kurang percaya diri, kini berani tampil bicara di depan publik. Salah satu buah manis pembinaannya adalah Syifa, santriwati kelas 10 yang berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz. Syifa kini menjadi tangan kanan Ustadzah Aisyah sebagai Ketua Asrama, membuktikan bahwa bimbingan yang tepat mampu melahirkan pemimpin muda yang Qur'ani.

Harapan untuk Masa Depan

Wilayah Tamalanrea yang dulunya adalah kawasan pinggiran kini berkembang menjadi pusat industri, hunian, dan pendiidkan, tantangan dakwah tetap ada. Aisyah masih berjuang mengajak para ibu di lingkungan sekitar agar lebih tertarik mengikuti majelis ta’lim.

Untuk mendukung syiar ini, ia berharap adanya sarana Motor Dakwah agar mobilitasnya lebih luas, serta sebuah Pendopo Mengaji yang layak bagi anak-anak TPA yang ia rintis. Ia ingin memastikan bahwa TPA yang dimulai dari 3 anak itu, kelak akan melahirkan ratusan penghafal Al-Qur'an di Makassar.

Para dai dan daiyah yang dibiayai oleh Donatur LAZNAS Dewan Dakwah telah membawa perubahan nyata di berbagai wilayah di penjuru negeri. Yuk, jangan lewatkan kisah dai dan daiyah muda lainnya dalam Membangun Negeri dari Pedalaman.

Turut ambil bagian dalam perubahan besar. Sampaikan donasi kegiatan dakwah sahabat melalui LASNAS Dewan Dakwah.

Bagikan :

Berita Lainnya

Artikel Sejenis