LAZNAS Dewan Dakwah - Di balik rimbunnya perkebunan sawit dan karet di Kabupaten Tulang Bawang, kesunyian seringkali terasa mencekam. Namun, bagi Ustadzah Darlina, kesunyian itu adalah panggilan. Puluhan kilometer dari hiruk-pikuk kota, tepatnya di Kampung Panca Tunggal Jaya dan Desa Wonorejo, ia hadir membawa lebih dari sekadar pengajaran; ia membawa harapan yang sempat padam.
Hampir setengah tahun lamanya, kampung itu kehilangan denyut pembinaan. Sejak kepergian kafilah dakwah mahasiswa beberapa bulan lalu, Musholla Baiturrahman, satu-satunya tempat sujud di tengah lingkungan yang didominasi keyakinan lain, sempat membisu. Anak-anak berhenti melantunkan iqra, dan para mualaf kehilangan pegangan di tengah arus tantangan akidah yang deras.
Setiap pagi, daiyah Dewan Dakwah itu harus berdamai dengan debu jalanan dan kerikil tajam, tanah merah yang licin ketika hujan dna tak jarang membuatnya terjatuh dari motor. Mengendarai sepeda motor seorang diri menembus rimbun kebun yang sepi bukan perkara mudah. "Jarak 12 kilometer pulang-pergi dengan kondisi jalan yang sunyi itu menantang, apalagi bagi seorang perempuan," ungkapnya tenang.
Tugasnya dimulai dari pagi hingga siang di sekolah formal (TK IT dan SD IT Jami’atul Khair). Namun, hati kecilnya selalu tertuju pada sore hari di Musholla Baiturrahman.

Baca Juga: 200 Orang Suku Tau Taa Wana Ikrarkan Syahadat di Gunung Tua
Hari pertama ia membuka kelas, hanya ada satu anak yang hadir. Namun, baginya , satu jiwa adalah segalanya. Ia tetap mengajar dengan binar mata yang sama seolah menghadapi puluhan murid. Keyakinannya berbuah manis; esoknya jumlah itu bertambah menjadi dua, lalu empat. Kini, suara-suara mungil itu kembali melantunkan ayat-ayat Allah, menjadi benteng kecil bagi keluarga-keluarga mualaf di sana agar tak goyah diterjang arus zaman.
Melampaui Kata-Kata: Dakwah Melalui Sentuhan Tangan
Dakwah Ustadzah Darlina tak berhenti di lisan. Ia memahami bahwa di pedalaman, kehadiran fisik dan empati jauh lebih bisa bersuara daripada sekadar teori. Hal ini terpotret jelas dalam sebuah peristiwa pada 25 Oktober 2025.
Hari itu, Ia mengunjungi rumah seorang ibu untuk memberikan layanan terapi bekam. Di rumah sederhana itu, suasana haru pecah seketika. Sang ibu, dengan mata berkaca-kaca, membisikkan rasa syukur yang dalam, "Alhamdulillah… akhirnya bisa merasakan bekam lagi."

Ternyata, ada luka batin yang lebih dalam dari sekadar rasa sakit fisik. Sang ibu sebenarnya adalah seorang pembekam yang sering menolong warga. Namun, kebaikannya justru dibalas fitnah keji; ia dituduh menggunakan mantra dan sihir dalam praktiknya. Sejak saat itu, ia menarik diri, menyimpan luka dan rindu akan terapi sunnah yang ia cintai.
Baca Juga: Lentera yang Menyala dari Rumah ke Rumah di Uwemalingku
Di tangan Ustadzah Darlina, bekam hari itu bukan sekadar mengeluarkan darah kotor. Setiap titik kop yang dipasang adalah bentuk dukungan moril, dan setiap doa yang dipanjatkan adalah penawar luka fitnah yang selama sepuluh tahun mendekam di hati sang ibu. Air mata yang mengalir di pipi ibu tersebut menjadi saksi bahwa kehadiran Darlina adalah jawaban dari doa-doa sunyinya.
Kehadiran Ustadzah Darlina juga menghilangkan stigma negatif tentang bekam. Hingga akhirnya permintaan warga untuk dibekam semakin meningkat setiap harinya.
Membendung Arus Kristenisasi
Kehadiran Dewan Dakwah melalui Ustadzah Darlina di Desa Wonorejo dan Panca Tunggal Jaya bukan sekadar rutinitas. Ini adalah ikhtiar membendung arus kristenisasi yang aktif bergerak di wilayah tersebut. Baginya, setiap pertemuan, setiap sesi bekam, dan setiap mabit (malam bina iman dan taqwa) adalah cara untuk memastikan bahwa api iman para mualaf tetap menyala.

Dari satu murid yang kembali mengaji, hingga satu hati ibu yang kembali teguh, Ustadzah Darlina membuktikan bahwa dakwah di pedalaman bukan tentang seberapa besar panggungnya, tapi tentang seberapa tulus jejak yang ditinggalkan. Di tengah sunyinya kebun sawit Lampung, cahaya itu kini tak lagi redup. Ia tumbuh, sedikit demi sedikit, menghangatkan jiwa-jiwa yang haus akan kebenaran.
Para dai dan daiyah yang dibiayai oleh Donatur LAZNAS Dewan Dakwah telah membawa perubahan nyata di berbagai wilayah di pejuru negeri. Yuk, jangan lewatkan kisah dai dan daiyah muda lainnya dalam Membangun Negeri dari Pedalaman.
Turut ambil bagian dalam perubahan besar, sampaikan donasi kegiatan dakwah sahabat melalui LAZNAS Dewan Dakwah.