Lentera yang Menyala dari Rumah ke Rumah di Pedalaman Uwemalingku

Dipublikasikan : 24 Nov 2025

Lentera yang Menyala dari Rumah ke Rumah di Pedalaman Uwemalingku

LAZNAS Dewan Dakwah - Siang itu Ustadz Hasan tengah bercakap dengan jamaah masjid Al Furqon sambil berjalan. Lahan warga yang masih kosong di kanan kiri mereka. 

“Nda papa toh, buat menabung juga,” ucap salah satu jamaah masjid sambil menunjuk sebidang tanah kosong tak jauh dari tempat mereka berdiri. Lahan itu tidak luas, tapi cukup subur untuk diolah. Bermaksud memberikannya kepada Ustadz Hasan selama berdakwah.


“Wah terima kasih bapak, saya bisa mulai menanam supaya cepat panen ini,” sahut Ustadz Hasan sambil bercanda ringan. Siapa sangka, lahan sederhana pemberian jamaah itu kelak menjadi penyambung hidupnya selama bertugas di pedalaman.


Sudah hampir 3 bulan Ustadz Zainul Hasan, salah satu dai Dewan Dakwah membersamai masyarakat Dusun pedalaman yang masih dalam tahap pembinaan itu. Lokasinya yang jauh dari  pusat kecamatan, kekurangan akses, dan minim fasilitas harus membuatnya beradaptasi dengan cepat.


Uwemalingku yang Masjih Jauh dari Peradaban

Uwemalingku, Desa Kalo Atas, Mamosalato, Morowali Utara, termasuk salah satu dusun binaan Dewan Dakwah yang dibangun untuk penduduk nomaden Tau Ta’a di pedalaman Morowali Utara, yang menggantungkan hidup dari hasil alam. Silih berganti dai yang datang membina masyarakat yang masih sangat baru itu, termasuk Ustadz Hasan.




Baca Juga: Bolehkah Zakt Diberikan kepada Keluarga? Ini Syarat dan Penjelasannya


Dari membantu mereka membangun rumah, mengajarkan mereka bersosialisasi, mengenalkan bahasa, membaca, hingga membantu mereka memahami dunia luar sedikit demi sedikit.


Pembinaan berkelanjutan itu menunjukan perkembangan. Mereka yang tadinya buta huruf kini mulai lancar membaca, secara bertahap mereka juga sudah mampu mengeja huruf-huruf hijaiyah. Kedatangan Ustadz Hasan membawa angin baru bagi masyarakat mualaf itu.


Namun, perjalanan menuju Uwemalingku bukan perkara mudah. Ustadz Hasan harus menempuh jalur yang masih berupa tanah merah yang becek saat musim hujan, terkadang di hiasi batu-batu kerikil, tanjakan atau turunan yang curam, hingga jurang di kanan kiri jalan.


TPA dan Anak Pedalaman

Satu masjid kini telah berdiri gagah di tengah-tengah Uwemalingku. Masjid Al Furqon namanya. Di sanalah Ustadz Hasan bermukim, menjadikannya pusat aktivitas dakwah, belajar, dan  mengaji. 


Karena adanya transisi dai, anak-anak pedalaman sempat vakum mengaji. Banyak yang kembali lupa huruf dan bacaan. Karena itu ustadz Hasan memulai lagi dari awal, mengulang, menuntun dan menguatkan ingatan.




Selepas maghrib, suara doa dan ayat-ayat iqra kembali menggema. Tidak kurang dari 6 orang anak setia hadir setiap hari. Bahkan terkadang anak-anak non muslim juga ikut menyaksikan.


Sayangnya, masjid Al Furqon lebih sering kosong di waktu-waktu shalat. Saat masa tanam nilam tiba, warga bisa berminggu-minggu berada di kebun, sehingga jamaah shalat Jumat pun hanya belasan orang. Karena itu, Ustadz Hasan sering keluar masuk kebun untuk bertemu warga, bahkan ikut menginap dan membantu panen.


Berkebun Untuk Menyambung Hidup

“Terima kasih banyak ustadz sudah mau membantu dan mengunjungi kebun kami. Semoga minyaknya banyak dan berkah karena dibantu ustadz,” canda Pak Roy, pemilik kebun yang dikunjungi Ustadz Hasan.


Dari kebiasaan inilah ia juga belejar menanam, merawat dan mengolah nilam hingga jadi minyak di kebun yang telah diberikan oleh salah satu jamaah masjid. Kebun itu akhirnya tidak hanya ia tempati untuk menanam nilam, tapi juga singkong dan sayur mayur.


“Di kebun saya menanam singkong untuk cadangan makanan dan, persediaan sayuran nanti diolah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” lanjutnya.


Karena untuk berbelanja logistik, Ustadz Hasan harus turun ke kecamatan dua minggu sekali.




Membawa Lentera Ilmu dari Rumah ke Rumah

Dusun itu kini tak lagi gelap, listrik telah mengaliri setiap rumah sejak awal tahun 2025. Meskipun jalan sepanjang dusun masih belum didukung lampu jalan. Karena itu,


Ustadz Hasan dapat memanfaatkan malam hari lebih lama untuk mengajar iqra dari rumah ke rumah. Terlebih penduduk Uwemalingku baru bisa ditemui di malam hari, setelah mereka seharian bergelut di kebun masing-masing.


Baca Juga: Kiprah Daiyah Muda di Pedalaman, Ustadzah Ila Beri Warna Baru di Tanasumpu


Setiap jam delapan malam, ia mulai melangkah menyusuri kegelapan tanah Uwemalingku berbekal senter dan tas punggung berisi alat-alat mengajar.


“Hari ini di rumah rumah mama Adit, besoknya di rumah mama Endram, besoknya lagi di rumah yang lain, paling banyak empat orang yang datang belajar di setiap pertemuannya.” tuturnya.


Akhirnya dari dua orang yang ia ajar diawal, kini makin banyak yang meminta untuk didatangi juga rumahnya. Hingga sekarang sudah ada 7 orang yang rutin ia bina setiap malam dari pukul 8 hingga pukul 9. Dan di antara mereka sudah ada yang sampai di iqra 3 dan 4.


Suasana belajar pun penuh kehangatan. “Kalau mereka butuh kopi, saya kasih kopi. Butuh gula, saya bantu. Setelah ngaji, saya kasih sedikit camilan kalau ada,” cerita Ustadz Hasan. “Akhirnya mereka balas dengan memberi pisang, sayur, atau apapun yang mereka punya.”


Berbeda dengan metode ajar pada umumnya, mengajar penduduk pedalaman yang bahkan masih terbata berbahasa Indonesia perlu banyak kesabaran dan metode yang interaktif. Dai Dewan Dakwah itu menyiapkan bahan ajar berupa kertas yang bertuliskan huruf-huruf hijaiyah, satu kertas satu huruf berjejer ia tempelkan berjejer di dinding kayu tiap rumah.


Kini ada 16 rumah mualaf di Uemalingku. Dari rumah terdekat hingga yang berjarak satu kilometer disusuri Ustadz Hasan dengan jalan kaki.


Meski sudah pernah ada beberapa dai, namun pemahaman agama mereka masih dapat dikatakan 0 persen. Karena itu, tidak hanya iqra’ penanaman dasar-dasar Islam diajarkan juga secara bertahap oleh dai muda tersebut. 




“Terimakasih sudah bersedia datang ke rumah kami meski harus berjalan kaki,” tutur mata Adit menyampaikan terima kasihnya.


“Mama Aira sudah iqra’ berapa sekarang?” jawab Ustadz Hasan


“Alhamdulillah sudah masuk iqra’ empat,” jawab Mama Aira dengan tersenyum bangga, merasa sangat bersyukur dari 16 kali pertemuan, dirinya yang belajar iqra’ dari nol kini sudah iqra’ empat.


Sayangnya, karena potensi alam Morowali Utara akan tambang, termasuk di Uwemalingku, bisa jadi tergusur dengan masuknya perusahaan-perusahaan tambang baru.


Para dai dan daiyah yang dibiayai oleh Donatur LAZNAS Dewan Dakwah telah membawa perubahan nyata di berbagai wilayah di penjuru negeri. Yuk jangan lewatkan kisah dai dan daiyah Dewan Dakwah lainnya. Dukung dan ikuti perjalanan mereka dalam Membangun Negeri dari Pedalaman.


Turut ambil peran dalam perubahan besar, sampaikan donasi kegiatan dakwah sahabat melalui LAZNAS Dewan Dakwah.



---

Oleh: Nur Aisyah


Bagikan :

Berita Lainnya

Artikel Sejenis