Harapan Baru di Lengkong Kawu, Masjid Pertama Hadir Setelah 40 Tahun Penantian

Dipublikasikan : 24 Nov 2025

LAZNAS Dewan DakwahSetiap hari, warga Kampung Lengkong Kawu harus melangkah dua hingga tiga kilometer hanya untuk menuju masjid terdekat. Jarak yang bagi sebagian orang terlihat biasa saja, namun bagi anak-anak, para ibu, terlebih para lansia, langkah sejauh itu tidak selalu mudah. Itulah sebabnya, selama puluhan tahun, shalat berjamaah hampir mustahil dilakukan kecuali di hari Jum’at.

Sudah 40 tahun masyarakat di kampung kecil ini merindukan suara adzan yang terdengar langsung dari rumah mereka sendiri. Rindu yang besar, tetapi tak pernah benar-benar terjawab, hingga akhirnya kini harapan itu mulai tumbuh nyata.

Kampung Lengkong Kawu, terletak di Desa Siru, Kecamatan Lembor, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Di daerah yang dikelilingi bukit dan lahan pertanian ini, hidup sekitar 30 Kepala Keluarga muslim yang telah mendiami wilayah itu turun-temurun. Sejak tahun 1985, belum pernah sekalipun berdiri sebuah masjid di sini. Padahal, hampir seluruh warganya adalah muslim yang memegang teguh nilai ibadah dan tradisi keagamaan.


Baca Juga: Rutin Sedekah Subuh, Kunci dan Pintu Keberkahan dalam Memulai Hari

Selama bertahun-tahun, warga harus berjalan bolak-balik hingga lima atau enam kilometer demi shalat berjamaah. Pada musim hujan, tanah becek dan licin sering membuat perjalanan menjadi berbahaya. Jika malam tiba, gelapnya jalan menjadi tantangan lain, membuat banyak orang akhirnya memilih shalat di rumah meskipun hati mereka rindu untuk memenuhi panggilan masjid.

“Kami sudah tinggal di kampung ini sejak 1985, tak ada tempat shalat, pergi shalat jum'at sangat jauh, kami shalat lima waktu di rumah, tidak mendengarkan adzan,” tutur salah satu warga. Rasa lelah, jarak yang jauh, dan kondisi alam membuat ibadah berjamaah menjadi kemewahan yang jarang mereka dapatkan.

Namun, semangat kebersamaan warga Lengkong Kawu tidak pernah padam. Mereka tetap hidup rukun, bekerja di ladang, dan menjaga nilai adat serta agama di tengah segala keterbatasan. Penghasilan yang terbatas tidak mengurangi tekad mereka untuk suatu hari memiliki tempat ibadah sendiri, sebuah masjid yang dapat mereka banggakan.

Kini, setelah puluhan tahun, impian itu perlahan menjadi kenyataan. Masjid pertama di Lengkong Kawu mulai berdiri. Dari proses pemerataan tanah, pengukuran arah kiblat, pengerjaan pondasi, hingga tembok yang satu per satu ditegakkan, semuanya hadir sebagai bukti nyata bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang.


Baca Juga: Di Tengah Laut dan Hutan, Warga Sungai Danai, Pulau Burung, Kini Punya Dai

Atap masjid pun mulai terpasang, menjadi penanda bahwa hari warga Lengkong Kawu mendengar adzan dari rumah mereka sendiri sudah semakin dekat. Kebaikan para donatur melalui LAZNAS Dewan Dakwah mengalirkan cahaya baru yang selama ini mereka tunggu. Dukungan itu membuat pembangunan masjid ini terus bergerak meski bertahap.

Bagi masyarakat Lengkong Kawu, masjid ini bukan hanya bangunan ibadah. Ia adalah simbol martabat, rumah kebersamaan, tempat anak-anak belajar mengaji, dan ruang aman bagi para lansia untuk beribadah tanpa harus melawan jarak dan cuaca.

Setelah empat dekade penantian, akhirnya kampung kecil ini memiliki harapan yang kokoh, harapan yang berdiri di tengah tanah mereka sendiri.

Alhamdulillah, kebaikanmu telah jadi bangunan masjid pertama yang berdiri di sana. Insya Allah, sebentar lagi rampung dan bisa digunakan masyarakat untuk beribadah serta jadi pusat dakwah.


Bagikan :

Berita Lainnya

Artikel Sejenis