Di Tengah Laut dan Hutan, Warga Sungai Danai, Pulau Burung Kini Punya Dai

Dipublikasikan : 14 Okt 2025

Di Tengah Laut dan Hutan, Warga Sungai Danai, Pulau Burung Kini Punya Dai

LAZNAS Dewan DakwahDi ujung selatan Riau, tepatnya di Desa Sungai Danai, Kecamatan Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir, seorang dai muda bernama Fahrudin menapaki jalan dakwahnya.

Dai Pertama di Sungai Danai, Pulau Burung, Riau

Menembus Ombak Menuju Ladang Dakwah

Pada 16 Agustus 2025, Ustadz Fahruddin memulai perjalanan dari Pelabuhan Mengkapan, Riau. Rencana awalnya menuju langsung ke Pulau Burung, pulau agrowisata yang memikat. Namun, cuaca buruk dan ombak besar membuat perjalanannya tertunda. Ia harus singgah di Penyalai dan bahkan sempat kebingungan karena penjemputnya tak bisa datang. 

“Saya sempat bingung mau ke mana, tapi Alhamdulillah Dewan Dakwah Riau langsung merespons dan membantu,” kenangnya.

Akhirnya, dengan menumpang kapal kecil bersama temannya, Zulfan, ia melanjutkan perjalanan di tengah jalan ekstrim dan ombak tinggi, hingga tiba di Sungai Danai beberapa jam hari kemudian. Ia menjadi dai pertama yang ditugaskan di daerah yang dikelilingi hutan dan lautan.




Menghidupkan Dakwah dari Masjid Hingga Sekolah

Setiba di lokasi, Ustadz Fahrudin menempati rumah sederhana khusus guru yang disediakan warga, lengkap dengan kasur, kompor, hingga gas. Ia langsung beradaptasi dan mulai menghidupkan berbagai kegiatan dakwah.

Sebagai dai pertama di desa itu, antusiasme warga dan harapan mereka cukup besar kepadanya.

Hadirnya Dai, Bertambahnya Jamaah

Kehadiran dai menghidupkan masjid di Sungai Danai. Jamaah shalat subuh yang tadinya tidak ada sama sekali, kini mulai hadir tiga hingga lima orang. Anak-anak TPA pun semakin ramai hingga 20 orang lebih.

Tak hanya itu, majelis talim ibu-ibu juga semakin hidup dan telah rutin di laksanakan setiap pekannya.

Bangunan MDA Sungai Danai yang Sudah Reot

Tidak hanya berpusat di masjid, Ustadz Fahrudin juga mengajar di dua SD negeri. Salah satunya adalah SDN 006, yang hanya memiliki tiga ruang kelas. Karena keterbatasan tersebut, setiap kegiatan belajar mengajar harus menggabungkan dua kelas sekaligus. Jalan ke sana pun tidak layak terutama ketika hujan turun, tanah menjadi berlumpur dan sulit untuk dilewati.



Tak hanya itu, di sing harinya ia turut mengisi kelas di MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah). Semacam TPA yang telah lama berdiri dengan visi membantas buta huruf al qur’an. MDA itu kini memiliki total 30 orang murid.



MDA di Sungai Danai ini hanya sampai jenjang kelas 4. Bangunan kayunya pun sudah sangat lapuk dan reot, banyak bagiannya yang sudah berlubang. Namun anak-anak Sungai Danai tetap datang untuk belajar sepulang sekolah.


Kehidupan di Tengah Alam dan Tantangan Dakwah
Sungai Danai adalah desa yang indah, banyak kanal yang menghubungkan antar desa. Namun, hewan buas seperti harimau terkadang masih sempat menjangkau pemukiman warga. Ustadz Fahrudin bahkan masih menjumpai banyak lutung setiap kali ke masjid.

“Pulau Burung masih menjadi habitat hewan yang sangat alami. Tak jarang mereka masih sering ke perkampungan. Bahkan setiap ke masjid saya harus mengusir lutung yang berkumpul di sana,” katanya sambil tertawa.

Kondisi semakin menantang karena listrik hanya menyala pada malam hari. Untuk memenuhi kebutuhan pokok pun, Ustadz Fahrudin harus menyeberang ke kota menggunakan kapal besar.

Dari pulau kecil tersebut, kiprah seorang da’i muda menjadi bukti bahwa cahaya dakwah bisa bersinar bahkan dari tempat paling sunyi sekalipun.

Yuk, jangan lewatkan kisah dai dan daiyah muda lainnya. Dukung dan ikuti perjalanan mereka dalam Membangun Dakwah dari Pedalaman.

Bagikan :

Berita Lainnya

Artikel Sejenis