LAZNAS Dewan Dakwah - Tidak banyak orang yang tahu bahwa di ujung Kepulauan Nias, di antara enam desa dalam satu pulau kecil yang hampir semua penduduknya mayoritas non muslim, satu desa di antaranya memiliki penduduk yang masih memegang teguh keIslaman mereka.
Pulau terluar di perairan Australia itu tidak jarang mengalami krisis pangan, cuaca yang tidak mendukung kerap kali menghambat berlabuhnya kapal-kapal pembawa logistik.
Pulau Simuk namanya, sekitar 5% penduduknya adalah muslim yang mendiami Desa Gobo Baru.
Sarjana Baru Pulang Kampung
“Ustadz, kami sangat mengharapkan agar ada yang ditugaskan di pulau ini. Anak-anak kami sudah tidak tahu apa-apa lagi tentang agama,” tutur salah seorang warga di tengah musyawarah dan sambutan sarjana muda yang baru pulang itu.
Ustadz Hendri Saputra Gaurifa, Dai Dewan Dakwah yang kini ditugaskan di kampung halamannya sendiri.
Tidak mudah menuju Pulau Simuk. Dari Medan ke Teluk Dalam membutuhkan lebih dari lima jam perjalanan. Enam jam berikutnya harus ditempuh dengan kapal kecil yang hanya bisa berlayar jika cuaca tengah bersahabat. Gelombang Pulau Simuk memang selalu menantang.
Sudah hampir 15 tahun, belum ada dai yang dikirim ke pulau Simuk. Kelulusan Ustadz Hendri dari STID M. Natsir menjadi angin segar, sekaligus menandakan babak baru bagi minoritas muslim Simuk.

(Jamaah shalat Jum'at Masjid At Taqwa, Pulau Simuk)
Warga Desa Gobo Baru: “Kita Kedatangan Malaikat”
Di momen tersebut, Dai Dewan Dakwah itu memaparkan mengenai program dakwahnya selama bertugas dua tahun ke depan. Di tengah pertemuan, seorang warga bernama Pak Aidil berdiri dan berkata dengan suara bergetar,
“Kita kedatangan malaikat. Dia bukan hanya manusia, tapi malaikat yang Allah kirim ke pulau ini. Kedatangan pak ustadz akan menjadi cahaya di tengah-tengah kami, mengajari kami ilmu, begitu juga dengan anak-anak kami, semoga nantinya anak-anak kami lancar baca Alquran berkat bimbingan pak ustadz,” ujar pak Aidil mewakili suara warga.
Sebelumnya, asupan religi mereka hanya terbatas pada saat shalat jum’at semata. Masjid sepi dan kosong dari pembinaan, dan anak-anak jarang belajar mengaji.
Sekarang ini kurang lebih ada 29 KK muslim di Desa Gobo Baru, Pulau Simuk, serta ada dua orang mualaf. Meskipun sangat minoritas, harapannya Islam dapat lebih meluas di Pulau Simuk.
Baca Juga: Bertahun-Tahun Lupa Zakat Maal, Wajibkah Qadha Zakat?
Menata Dakwah dari Titi Nol
Sejak hari pertama, Ustadz Hendri merintis semuanya dari nol. Setiap malam seusai Maghrib, anak-anak dan remaja datang ke masjid untuk belajar membaca Al-Qur’an dan Iqra. Setiap Selasa dan Sabtu, ia mengajar tahsin dan fikih untuk para remaja. Ustadz Hendri juga sebagai imam lima waktu dan mengisi khutbah setiap pekan.

(Ustadz Hendri mengajar anak-anak Gobo Baru mengaji)
Masjid At Taqwa namanya, di masjid kecil itulah nadi Islam tetap berdenyut di Pulau Simuk.
Jumlah anak-anak TPA awalnya sangat sedikit, hanya satu hingga tiga orang. Namun, perlahan semakin banyak anak-anak dan remaja yang datang. Kini, lebih dari 30 anak belajar mengaji. Jamaah salat pun meningkat.
Perubahan terlihat jelas, banyak perempuan yang dahulu tidak memakai jilbab, sekarang mulai menutup aurat dengan bangga.
Kini anak-anak itu sangat membutuhkan bahan untuk mendukung pembelajaran mereka, seperti iqro, meja belajar, papan tulis, dan buku-buku islami.
“Mereka sangat menantikan kedatangan saya di sini untuk melanjutkan mengajar baca Alquran di masjid setelah 15 tahun tidak ada ustadz yg di kirim di Pulau Simuk ini, terlebih saya putra daerah sendiri,” ujarnya.
Selain di masjid, ia juga mengunjungi rumah warga, bersilaturahmi, mendengar keluh kesah, dan menjawab pertanyaan agama di sela waktu kosong. Ia tinggal di sekitar masjid, sehingga jarak dakwah hanya sejangkauan langkah kaki.
Hidup di Pulau yang Bergantung pada Kapal
Perekonomian warga Pulau Simuk begitu sederhana. Warga menggantungkan hidup pada kelapa dan hasil laut. Semua kebutuhan pokok seperti beras, minyak, telur, dan lain-lain datang dari pulau lain. Bila cuaca buruk dan kapal tak bisa masuk, pulau ini bisa terancam kekurangan bahan pangan.
Penerangan hanya mengandalkan tenaga surya yang menyala di malam hari. Jaringan telepon ada, tetapi internet sering tersendat. Setiap rumah memiliki sumur, dan satu-satunya fasilitas kesehatan adalah puskesmas.
Baca Juga: Ekspedisi Gunung Tua, Perdaban Baru dari Pedalaman Morowali Utara
Krisis Pangan di Pulau Simuk
Kurang lebih dua tahun yang lalu, pda 2023, pulau itu sempat mengalami krisis pangan. Warganya hanya dapat mengonsumsi sagu dan tepung.
“Bila kapal masuk ke pulau, maka beras dan kebutuhan lainnya datang, namun bila cuaca buruk dan kapal tidak bisa berlabuh, maka beras dan sembako lainnya tidak bisa masuk,” tutur Ustadz Hasan.
Meski mayoritas warga non-Muslim, masyarakat hidup rukun, saling menolong, dan memegang erat nilai toleransi. Ini pula yang membuat dakwah harus berjalan penuh kehati-hatian. “Kita berdakwah tanpa menyinggung agama lain,” jelas sang ustadz. “Fokus kita adalah memperbaiki ibadah umat Islam yang ada.”
“Mereka sangat mengharapkan nantinya setelah pengabdian, jika boleh untuk diperpanjang lagi pengabdiannya di sini atau ada dai lain yang siap ditugaskan di sini, karena mereka sangat membutuhkan peran pembinaan berkelanjutan,” tutupnya.
Paara dai dan daiyah yang dibiayai oleh Donatur LAZNAS Dewan Dakwah telah membawa perubahan nyata di berbagai wilayah di penjuru negeri. Yuk, jangan lewatkan kisah dai daiyah muda lainnya dalam Membangun Negeri dari Pedalaman.
Turut ambil peran dalam perubahan besar, sampaikan donasi kegiatan dakwah sahabat melalui LAZNAS Dewan Dakwah.