2 Tahun di Oloboju, Ustadz Kholilurahman Menyemai Dakwah Lewat Bertani

Waktu Posting : 31 Okt 2025

LAZNAS Dewan DakwahDi Desa Oloboju, Kecamatan Sigi Kota, Sulawesi Tengah, berdiri sebuah masjid sederhana bernama Masjid An-Nur. Dari tempat inilah Ustadz Kholilurrahman, dai muda Dewan Dakwah asal Pamekasan, Jawa Timur, menorehkan kisah pengabdian. Sudah dua tahun ia mengabdi di desa kecil ini, mengajar, membimbing, dan menanam harapan di tengah masyarakat.

Menjejak Dakwah di Oloboju

Sekitar 100 Kepala Keluarga berdiam di Oloboju, di antaranya banyak yang mualaf. Namun, sebelum kedatangan Ustadz Kholil, tak ada dai di sana, sehingga shalat 5 waktu pun masih kurang diperhatikan. Kedatangan Ustdaz Kholil tidak hanya menghidupkan dakwah, tapi juga menumbuhkan dan menggerakan kehidupan sosial dan ekonomi mereka.

Dari Masjid An Nur yang dibangun pada tahun 2019 silam dan didesain darurat bencana gempa, tsunami dan likuifaksi itu, dakwah di Oloboju terus hidup.

"Kami sangat bersyukur ada ustadz yang datang ke kampung ini, anak-anak jadi bisa mengaji. Jika bisa ustadz tinggal saja di sini saja," ujar salah satu warga desa.


Bukti Nyata Dakwah dan Anak-anak Oloboju yang Hebat

Anak-anak Oloboju belum terbiasa mengaji, kegiatan masjid nyaris sepi. Ustadz Kholil memulai dakwahnya dari nol, dengan mengajar iqra’, doa harian, dan bacaan shalat bagi anak-anak sekitar masjid.

Kini, sebanyak 35 anak rutin belajar di TPA An-Nur, lima belas di antaranya sudah lancar membaca Al-Qur’an dan mulai menghafal Juz 30.

“Anak-anak di sini semangatnya luar biasa. Mereka datang meski harus berjalan kaki dari sawah atau kebun,” tuturnya dengan senyum.

Baca Juga: Belum Pernah Mondok, Kini Jadi Hafidz, Anak Yatim Kupang Binaan Dai Dewan Dakwah

Anak-anak Hebat Oloboju

Dari hari ke hari, tumbuh generasi muda yang menjadi bukti nyata keberhasilan dakwah itu.

Ada Ibrahim, anak petani yang pling rajin datang mengaji, meski bajunya seringkali masih berlumur lumpur karena menempuh jalan menyusuri pematang sawah ke masjid.

Ada pula Azhar, putra dari keluarga mualaf yang kini menjadi salah satu santri paling tekun. Azhar yang sebelumnya masih minim pengetahuan agama, kini jadi paling sering mengumandangkan adzan.

Dan Valen, yang kini memiliki hafalan 3 juz dan menjuarai perlombaan tahfidz dan adzan. Ia menjadi bibit pelanjut estafeta dakwah Ustadz Kholil, dengan menjadi imam shalat untuk teman-temannya dan mengisi khutbah jum'at.


Bagi ustadz Kholil, mereka bukan sekadar murid, tetapi benih masa depan Islam dari pelosok negeri.

Dari Lahan Sederhana; Menyemai Dakwah, Gerakkan Ekonomi

Tak hanya mengajar, Ustadz Kholilurrahman juga berikhtiar memberdayakan ekonomi umat dengan bertani. Ia mengelola lahan seluas 40 x 40 meter di halaman masjid bersama warga sekitar. Tanah wakaf pemberian warga tersebut ia tanami jagung manis dan bawang merah, berseling setiap musim. Hasil panennya digunakan untuk memperbaiki masjid, mendukung kegiatan TPA, dan membantu warga yang membutuhkan.

Hingga kini, sudah empat kali musim panen ia lalui. Setiap hasilnya menjadi saksi bahwa dakwah bisa tumbuh subur, bukan hanya dari mimbar, tapi juga dari tanah yang digarap dengan niat tulus.

“Alhamdulillah, dari ladang ini kami bisa memperbaiki fasilitas masjid dan membantu kebutuhan kegiatan dakwah,” ujarnya bersyukur.

Baca Juga: Sedekah di Hari Jumat, Kebaikan yang Mengundang Berkah dan Kesembuhan

Tantangan di Tanah Dakwah

Fasilitas masjid An-Nur masih jauh dari layak. Tempat wudhu seadanya, dinding masjid belum sempurna, dan kendaraan untuk mobilitas dakwah pun terbatas. Namun, bagi ustadz Kholil semua itu bukan alasan untuk berhenti.

Terbatasnya akses air tidak menjadi pembendung dakwah. Dari hasil kebun, Ustadz Kholil membangun bak untuk menampung air yang hanya mengalir 2 kali sepekan dari mata air pegunungan menggunakan pipa besar.

Meski tidak menetap di Oloboju, apa yang telah disemai Ustadz Kholilurrahman tersebut menjadi bekal bagi pelanjut estafet dakwah setelahnya.

"Alhamdulillah, terlepas dari rintangan dan berbagai mcam hal yang telah dillalui dalam dakwah hingga saat ini, saya sangat bersyukur dididik oleh Dewan Dakwah menjadi seorang dai. Sangat senang rasanya bisa bermanfaat untuk orang lain," tutur dai muda tersebut.

Yuk, jangan lewatkan kisah dai dan daiyah muda lainnya. Dukung dan ikuti perjalanan mereka dalam Membangun Negeri dari Pedalaman.

Campaign Lainnya

Semua Cerita Sukses Kami