Menembus Riak Sungai Danau Sembuluh: Ustadz Darmayadi Jaga Akidah di Desa Palingkau
Dipublikasikan : 03 Mar 2026
LAZNAS Dewan Dakwah - Deru mesin perahu kayu menjadi musik harian bagi Ustadz Darmayadi. Untuk menyapa masyarakat di Desa Palingkau, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, air adalah satu-satunya jalan. Tak ada aspal, karena akses jalan aspal belum ada.
Desa ini terkurung oleh aliran sungai yang tenang namun menyimpan tantangan dakwah yang dalam. Membutuhkan waktu tiga jam untuk bisa sampai ke kampung dengan adat Dayak yang sangat kental tersebut
Ustadz Darmayadi, putra asli Lombok, NTB, adalah lulusan STID Mohammad Natsir.. Baru tujuh bulan ia menginjakkan kaki di tanah Kalimantan, namun jejak pengabdiannya mulai terasa di hati warga.
Penyambutan yang "Mencekam"
Begitu pertama kali tiba di Palingkau, dai Dewan Dakwah itu dikejutkan dengan penyambutan yang membuatnya hampir tak bisa berkata-kata, orang-orang dengan pakaian adat Suku Dayak menari-naaari. Ustadz Darmaya ketika itu tidak megerti apa yang mereka lakuan.
"Hal yang paling mencekam bagi saya adalah ketika baru datang langsung disambut dengan adat-adat lokal, seperti orang kesurupan. Itu adalah pemandangan pertama yang saya lihat," kenangnya.
Mungkin kabar baikanya adalah ia dianggap sebagai tamu terhormat. Ritual "seperti orang kesurupan" itu adalah cara masyarakat Dayak Palingkau menyambut tamu kehormatan.
Bagi seorang dai muda yang baru lulus, pemandangan tersebut adalah sinyal nyata bahwa tugasnya bukan sekadar mengajar mengaji, melainkan meluruskan akidah yang masih bercampur dengan sisa-sisa kesyirikan dan kepercayaan leluhur.
Hidup dalam Keterbatasan Fasilitas
Di Desa Palingkau, sinyal seluler adalah barang mewah yang nyaris tak ada. Komunikasi hanya bisa mengandalkan jaringan Wi-Fi berbayar milik warga. Listrik memang sudah masuk, namun untuk urusan kebutuhan pokok, Ustadz Darmayadi harus menempuh perjalanan 30 menit membelah sungai menuju pasar terdekat.
Ia kini mukim di sebuah rumah kosong milik warga. Fokusnya tercurah sepenuhnya pada masjid dan sekolah. Siang hari ia habiskan di SDN 1 Palingkau mengenalkan agama pada anak-anak pedalaman.
Malam harinya ia menghidupkan masjid Al Falah. Meski progressnya lambat, Ustadz Darmayadi berusaha untuk tetap hadir di tengah adat Dayak yang kental. Anak-anak TPA yang ia ajar di masjid Al Falah kini berjumlah 15 dari yang dulunya mereka sering absen hadir di TPA.
Jamah masjid pun masih naik turun, bahkan tidak jarang ia harus adzan dan shalat sendiri. Namun demikian ia tidak lantas berkecil hati.
Melanjutkan Estafet yang Sempat Terputus
Desa Palingkau sebenarnya pernah dibina oleh dai sebelumnya, namun sempat kosong selama dua tahun. Kedatangan dai muda Dewan Dakwah adalah penyambung lidah dakwah yang sempat terputus.
"Masyarakat di sini SDM-nya masih rendah, pemahaman agamanya pun masih sangat awam. Tantangan terbesar adalah adat istiadat turun-temurun yang masih kental dengan kesyirikan," ungkapnya.
Namun, perlahan tapi pasti, strategi dakwah melalui pendekatan anak-anak mulai membuahkan hasil. Melalui pengajaran di sekolah pagi hari dan pembinaan di masjid pada sore hingga malam, anak-anak binaannya mulai sadar. Mereka mulai memahami bahwa perlindungan sejati hanya milik Allah, bukan pada ritual-ritual adat yang menyimpang.
Sebagai dai tunggal di desa tersebut, Ustadz Darmayadi juga berperan aktif dalam membentengi akidah warga. Meski tantangan adat masih menjadi tembok besar, respon baik warga menjadi energi tambahan baginya untuk terus bertahan.
Selain berdakwah secara lisan, ia juga melayani jasa bekam bagi warga. Ini adalah cara diplomasi kesehatan yang ia gunakan untuk masuk ke ruang-ruang personal masyarakat, menjalin kedekatan, sembari menyelipkan nilai-nilai tauhid.
Para dai dan daiyah yang dibiayai oleh donatur LAZNAS Dewan Dakwah telah membawa perubahan nyata di berbagai wilayah di penjuru negeri. Yuk, jangan lewatkan kisah dai dan daiyah muda lainny dalam Membangun Negeri dari Pedalaman.
Turut ambil bagian dalam perubahan besar. Sampaikan donasi kegiatan dakwah sahabat melalui LASNAS Dewan Dakwah.