Setiap Langkah Beradu Nyali: Ustadz Akbar Menembus Gonggongan Anjing Demi Jaga Akidah Muslim Minoritas Karo

Dipublikasikan : 28 Apr 2026

Setiap Langkah Beradu Nyali: Ustadz Akbar Menembus Gonggongan Anjing Demi Jaga Akidah Muslim Minoritas Karo

LAZNAS Dewan DakwahJalanan berliku dengan jurang curam di tepinya menjadi saksi bisu perjuangan Ustadz Muhamad Akbar. Dai Dewan Dakwah asal Aceh Tamiang ini tak akan pernah lupa bagaimana sang istri berkali-kali  muntah akibat medan ekstrem pegunungan saat menuju lokasi pengabdian mereka di Desa Batu Karang, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Namun, medan yang berat itu hanyalah permulaan dari ujian kesabaran yang sesungguhnya.

Desa yang "Keras"
Sesuai namanya, Batu Karang, karakter masyarakatnya dikenal teguh dan sangat menjaga prinsip. Watak mereka yang keras pun seperti nada biacara yang tegas jauh berbeda dengan ustadz AKbar dan istrinya.


(Gambar: Ustadz Akbar (jas hitam) dengan jamaah masjid muslim minoritas tanah Karo)

Sebelum kedatangan Ustadz Akbar, kondisi dakwah di desa ini cukup memprihatinkan, masjid tetap hidup, namun shalat jum'at seringkali tidak terlaksana lantaran ketiadaan ustadz. Dari total 2.800 penduduk, hanya sekitar 200 Kepala Keluarga yang memeluk Islam dan beberapa diantaranya mualaf.

"Kami sangat membutuhkan kehadiran ustadz di sini. Selama ini, shalat Jumat bahkan sering ditiadakan karena tidak adanya ustadz" ungkap Pak Sandi, Ketua DKM Batu Karang.

Minimnya dorongan orang tua serta kesibukan mereka mengurus kebun tembakau dari pagi hingga malam membuat masjid sering kali sepi dari aktivitas ibadah.


Payung dan Kejaran Anjing
Bermukim di tengah mayoritas warga non-muslim menjadi tantangan tersendiri bagi Ustadz Akbar. Tiga bulan pertama, ia dan istrinya harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer setiap kali waktu shalat tiba lantaran belum memilki kendaraan.

Sepanjang jalan itu, dai Dewan Dakwah tersebut harus menghadapi gonggongan bahkan kejaran anjing yang tidak hanya 1 atau 2. Jalan yang ia tempuh selalu ramai setiap kali ia lewat.

(Gambar: Ustadz Akbar mengajar anak-anak TPA)

"Ujian terberat itu saat Subuh. Suasana sangat sunyi, dan saya harus berhadapan dengan gonggongan hingga kejaran anjing-anjing ganas," kenangnya. Ia selalu membawa payung, bukan untuk berlindung dari hujan, melainkan sebagai tameng untuk menghalau anjing-anjing yang nekat menyerang.

Meski rasa was-was selalu membayangi setiap kali keluar rumah, langkah kakinya tidak pernah berhenti menuju masjid. Meski kini Ustadz Akbar sudah menggunakan motor, gonggongan anjing tidka berhenti.

Dari Kebun hingga Lapangan Bola
Salah satu tradisi yang masih dijaga masyarakat Muslim minoritas di Batu Karang adalah perwiritan (membaaca wirid berjaamaah), meski sebelumnya dilakukan tanpa dipandu seorang ustadz. Akhirnya Ustadz Akbar mulai rutin memimpin wirid setiap malam Jumat untuk bapak-bapak dan Jumat siang untuk ibu-ibu.

Karena sulit menemui warga di rumah ketika siang hari, ia tak segan menyusul mereka ke kebun. Sembari ikut membantu, ia menyelipkan pesan-pesan dakwah dengan santun. Warga yang belum bisa ia temui di siang hari ia sambangi di malam hari, sembari terkadang membantu mereka mengiris tembakau.

    
(Gambar: Ustadz Akbar membantu panen warga)


Tak hanya orang tua, anak-anak dan remaja juga menjadi fokus utama pembinaan dai Dewan Dakwah ini. Setiap Senin hingga Kamis sore, ia mengajar mengaji. Tak jarang, ia juga mendatangi para remaja hingga ke lapangan bola untuk menjalin kedekatan. Perlahan namun pasti, usahanya mulai membuahkan hasil:

TPA dan Remaja Masjid: Jumlah santri TPA melonjak dari belasan menjadi puluhan anak, dan para remaja mulai aktif berkumpul dalam pembinaan setiap malam Ahad.

Kesadaran Beribadah: Warga yang dulunya hanya sekadar ikut pengajian (wirid) tanpa menjalankan shalat, kini mulai tergerak untuk memperbaiki ibadahnya. Shalat jum'at pun tak pernah lagi tidak dilaksanakan.


(Gambar: Pembinaan anak-anak Remaja oleh Ustadz Akbar)

Konsultasi Beda Agama
Kehadiran Ustadz Akbar ternyata dirasakan manfaatnya lintas agama. Pernah suatu ketika, seorang warga non-muslim datang berkonsultasi mengenai masalah rumah tangganya. Uniknya, warga tersebut mengaku rutin membaca Surah Al-Fatihah demi memperbaiki hubungan dengan istrinya.

Kisah lain yang tak kalah berkesan adalah saat seorang warga datang ke masjid untuk membayar zakat fitrah, namun ia datang sambil membawa tuak (minuman keras). Realita sosial yang kontras ini dihadapi Ustadz Akbar dengan pendekatan yang sangat santun dan mudah dipahami, tanpa sedikit pun menghakimi.

Para dai dan daiyah yang dibiayai oleh donatur LAZNAS Dewan Dakwah telah membawa perubahan nyata di berbagai wilayah di penjuru negeri. Yuk, jangan lewatkan kisah dai dan daiyah muda lainnya dalam Membangun Negeri dari Pedalaman.

Turut ambil bagian dalam perubahan besar. Sampaikan donasi kegiatan dakwah sahabat melalui LAZNAS Dewan Dakwah.

Bagikan :

Berita Lainnya

Artikel Sejenis