LAZNAS Dewan Dakwah - Di saat banyak pasangan muda memilih menghabiskan masa awal pernikahan dengan kenyamanan kota, Halim Walude dan Lisa Dalofa memilih jalan yang berbeda. Pasangan dai-daiyah Dewan Dakwah lulusan STID Mohammad Natsir ini menjadikan Desa Oloboju, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, sebagai pelataran pertama ibadah panjang mereka: pengabdian kepada umat.
Bagi Halim, tanah Sigi bukan tempat asing. Namun bagi Lisa, seorang gadis asal Kepulauan Meranti, Riau, berpindah dari ujung Sumatera ke Sulawesi adalah sebuah lompatan iman yang besar. Ia harus berdamai dengan rasa asing, perbedaan bahasa, hingga budaya masyarakat Kaili yang kental.

Menembus Batas Bahasa, Menyentuh Hati dengan Luka
Awal kedatangan keduanya di Januari 2026 terasa sunyi. Kesibukan ibu-ibu di Oloboju yang membantu suami bertani dari fajar hingga senja membuat ruang interaksi menjadi sangat terbatas. Namun, dakwah tak selamanya lewat lisan.
Sebuah peristiwa haru menjadi pintu masuk ukhuwah yang tak terlupakan. Suatu hari, seorang jamaah mengalami luka parah di kaki, sepuluh jahitan, akibat kecelakaan saat memperbaiki pipa air. Melihat jamaah tersebut kesulitan, Ustadz Halim tak tinggal diam. Dengan telaten, ia mengobati luka itu menggunakan kulit kayu jawa dan kasa.
Tak sampai di situ, selama sang jamaah sakit, Ustadz Halim mengajukan diri untuk menggantikan perannya: menggembala 40 ekor kambing. "Ini pengalaman yang sangat mengesankan bagi saya. Untuk pertama kalinya, saya menjadi penggembala kambing demi membantu jamaah," kenang Halim. Aksi nyata inilah yang lebih berbicara dibanding ribuan kata, meruntuhkan sekat antara dai pendatang dan penduduk lokal.

Baca Juga: 2 Tahun di Oloboju, Ustadz Kholilurahman Menyemai Dakwah Lewat Bertani
Mendamaikan Perbedaan di Masjid An Nur
Di Desa Oloboju, pemahaman agama masyarakat masih diwarnai kefanatikan terhadap perbedaan furu’iyah (cabang agama). Perdebatan tentang jumlah rakaat tarawih hingga jumlah takbir saat hari raya sering kali memicu ketegangan. Bahkan, ada keyakinan adat bahwa masjid yang dibangun harus melalui prosesi adat Kaili sebelum diresmikan.
Kehadiran Halim dan Lisa membawa kesejukan. Dengan pendekatan yang lembut dalam khutbah dan kajian, Halim perlahan menjelaskan bahwa perbedaan tersebut bukanlah masalah pokok (ushul) yang harus dipertentangkan. Kini, masyarakat mulai kompak dan saling toleran.

TPQ Masjid An Nur: Dari 20 Menjadi 22 Harapan
Rutinitas pasangan ini dimulai sebelum subuh. Halim mengawali hari dengan menyimak hafalan santri dan mengajar tahsin bagi imam masjid sekitar, sebelum kemudian alanjut bertani mengolah lahan wakaf pekarangan masjid.
Sore hingga Isya adalah waktu bagi mereka berdua di TPQ Masjid An-Nur. Meski remaja di desa ini memiliki tantangan kedisiplinan yang tinggi, Ustadz Halim tak patah arang. Hasilnya mulai terlihat:
• Disiplin Meningkat: Anak-anak yang awalnya cukup sulit diatur, kini mulai rajin menghafal Al-Qur'an.
• Kepercayaan Diri: Remaja masjid yang awalnya malu-malu, kini mulai berani tampil di depan publik.
• Pertumbuhan Jamaah: Dari 20 anak, kini telah bertambah menjadi 22 anak yang aktif mengaji.
Baca Juga: 160 Paket Seragam Baru; Harapan Baru yang Merekah di SD Negeri Air Tenang

Menanti Rampungnya Rumah Allah
Meski fasilitas dasar seperti listrik dan internet sudah memadai, dakwah di Oloboju bukannya tanpa kendala fisik. Pembangunan Masjid An-Nur saat ini terbengkalai karena masalah administratif sertifikat wakaf. Selain itu, mobilitas dakwah pun masih terbatas karena mereka sangat membutuhkan kendaraan bermotor untuk menjangkau titik-titik pembinaan yang lebih jauh.
Selain itu, air juga masih menjad kendala di karenakan jadwal pembagian air yang hanya mengalir beberapa hari sekali untuk setiap RT.
Meski demikian, pembangunan masjid An Nur itu terus berlanjut dengan hasil dari pertaniannya menanam jagung di lahan masjid.
Bagi Halim dan Lisa, Oloboju bukan sekadar tempat penempatan, melainkan ladang amal tempat mereka belajar menjadi "orang tua" bagi puluhan anak binaan. Orang tua mereka sibuk di kebun, dan di Masjid An-Nur-lah anak-anak itu menemukan figur yang membimbing akhlak mereka.