LAZNAS Dewan Dakwah - Desa Kinarum di Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong, dikenal dengan suasananya yang sejuk dan masyarakatnya yang ramah. Namun, di balik kedamaian lereng pegunungan Kalimantan Selatan ini, ada kerinduan yang mendalam akan bimbingan spiritual. Kerinduan itu mulai terjawab saat Mulqam Adimah, seorang dai muda alumni STID Mohammad Natsir asal Sulawesi Tenggara, menginjakkan kaki di sana pada Agustus 2025 lalu.
Menempuh perjalanan lima jam dari pusat Dewan Dakwah Kalsel bukanlah perkara mudah, namun bagi sosok yang akrab disapa Ustadz Mulqam ini, senyum warga adalah penawar lelah yang paling ampuh. Kini, ia mukim di sebuah rumah pinjaman warga, menjadi bagian dari denyut nadi desa yang majemuk.
Merajut Harmoni di Tengah Perbedaan
Kinarum adalah potret toleransi yang hidup. Di desa ini, umat Islam, Kristen, dan Hindu hidup berdampingan dengan stabil sebagai pekebun. Tantangan terbesar Ustadz Mulqam bukanlah konflik, melainkan adaptasi budaya.
"Masyarakat di sini mayoritas berafiliasi dengan NU. Sebagai pendatang, saya harus banyak berbaur dan menyesuaikan diri, terutama saat memimpin tahlilan yang merupakan tradisi kuat di sini," ungkaap dai Dewan Dakwah itu. Dengan rendah hati, ia memilih untuk melebur, menunjukkan bahwa dakwah adalah soal merangkul, bukan memukul.
Baca Juga: Potret Dakwah Minoritas, Ustadz Latif Menjaga Lentera Islam di Tanah Dayak

Mushala Miftahul Jannah: Saksi Bangkitnya Semangat Mengaji
Sebelum kedatangan Ustadz Mulqam, seolah ada jeda panjang dalam pembinaan agama di desa ini. Namun, perlahan tapi pasti, perubahan mulai nampak:
• Langkah Sore dan Maghrib: Setiap hari, Ustadz Mulqam mengajar ngaji dua kali. Sore hari di rumah warga, dan setelah Maghrib di Mushala Miftahul Jannah.
• Masjid yang Mulai Terisi: Jamaah salat yang tadinya hanya 6 orang, kini perlahan meningkat menjadi lebih dari 10 orang karena anak-anak mulai rajin ikut berjamaah.
• Kebutuhan yang Terpenuhi: Saat melihat kekurangan Al-Qur'an, ia bergerak cepat mengajukan bantuan ke Kesra Bupati hingga akhirnya fasilitas mengaji anak-anak kini terpenuhi.
Kisah Sinta: Simbol Harapan Baru
Salah satu cerita paling menyentuh datang dari seorang siswi kelas 3 SMP bernama Sinta. Setelah sekian lama berhenti mengaji karena tidak ada pembimbing, kehadiran Ustadz Mulqam menyalakan kembali semangatnya.
Sinta mulai kembali membuka lembaran wahyu di Mushala Miftahul Jannah yang dekat dari rumahnya. Hasilnya luar biasa: dari posisi awal di Juz 1 pada bulan September, kini di bawah bimbingan Ustadz Mulqam, Sinta telah sampai di Juz 7. Ia adalah bukti nyata bahwa remaja desa hanya butuh sosok penggerak untuk kembali mencintai Al-Qur'an.

Baca Juga: Pakaian Baru untuk Ratusan Penyintas, Aceh Tamiang Sambut Ramadhan dengan Senyuman
Menanam Benih di Ladang Kinarum
Bagi Ustadz Mulqam, dakwah di Kinarum adalah tentang konsistensi. Meskipun harus menempuh jarak yang lumayan dengan sepeda motor untuk menjangkau tempat mengajar, ia tetap teguh. Baginya, melihat anak-anak yang tadinya hanya 3 orang kini menjadi 7 orang yang aktif mengaji adalah sebuah kemenangan kecil yang bermakna besar.
Ia tidak hanya datang sebagai pengajar, tapi sebagai saudara. Melalui pendekatan yang humanis dan mau berbaur dengan kearifan lokal, Ustadz Mulqam Adimah sedang menuliskan babak baru bagi masa depan generasi Qur'ani di Desa Kinarum.