Potret Dakwah Minoritas, Ustadz Latif Menjaga Lentera Islam di Tanah Dayak

Dipublikasikan : 18 Nov 2025

Potret Dakwah Minoritas, Ustadz Latif Menjaga Lentera Islam di Tanah Dayak

LAZNAS Dewan DakwahSuara grok-grok itu kembali terdengar, menyelinap dari halaman belakang rumah yang baru beberapa bulan ditempati. Meski terasa sangat tidak nyaman, penghuni rumah hanya bisa menarik nafas panjang. 

Rumah dai yang kini ia huni memang bersebelahan dengan kediaman Kepala Suku Dayak, dan di halaman belakanganya di perlihara beberapa ekor babi. 

“Jadi setiap pagi, siang, sore, malam, saya selalu mendengar suara-suara yang tidak ingin saya dengar,” ujarnya pelan sambil tersenyum pasrah. “Sepertinya saya harus terbiasa, apalagi di depan rumah ini ada masjid yang jadi pusat aktivitas dakwah,” lanjutnya.


Diaq Lay adalah salah satu desa di wilayah pedalaman Kalimantan Timur yang hingga kini masih dihuni oleh suku asli Dayak. Meskipun lokasinya di pedalaman, penduduk desa Diaq Lay, Kec. Muara Wahau, Kab. Kutai Timur, telah berperadaban. 


Di sanalah salah satu dai Dewan Dakwah ditempatkan. Ustadz Ahmad Latif Sumarta, sudah hampir tiga bulan dirinya membersamai penduduk minoritas muslim dan mualaf Diaq Lay.


“Disini yang menarik adalah muslim sebagai minoritas diterima dengan baik,” tuturnya.


Dai Pertama yang Menetap 

Belum pernah ada dai tetap di Diaq Lay. Karena itu Pak Andi dan istrinya, salah satu keluarga muslim di desa itu meminta ada dai tetap yang tinggal membersamai mereka. 


Tentu saja bukan perkara mudah. Masyarakat Diaq Lay dikenal pekerja keras dan cenderung individualis. Mereka berangkat pagi dan pulang menjelang gelap, sehingga masjid lebih sering sepi. Tanpa pendampingan, cahaya Islam di sana makin redup. 


Dari hampir 2000 non muslim, hanya ada 150 lebih masyarakat yang muslim.




Baca Juga: Rutin Sedekah Subuh, Kunci dan Pintu Keberkahan dalam Memulai Hari


Adzan dan Shalat Sendiri

Hampir tiga bulan menetap, Ustadz Latif masih sering adzan dan shalat sendiri di Masjid Al Ikhlas pada siang hari. Memang tidak semua rumah penduduk muslimnya berdekatan dengan masjid, terlebih padatnya aktivitas siang hari mereka.


“Hanya ada jamaah ketika shalat jumat saja sekitar lima orang,” tutur dai Dewan Dakwah tersebut.


Karena itu ia memfokuskan dakwahnya pada anak-anak terlebih dahulu. TPA Al Ikhlas yang tadinya hanya berjalan 3 kali dalam sebulan dan dibina oleh Pak Andi, kini rutin setiap Senin hingga Jumat setelah maghrib bersama Ustadz Latif, meskipun jumlah pesertanya naik turun. 


Malam-Malam Diaq Lay Tak Lagi Sunyi

Anak-anak Diaq Lay senang dengan hadirnya Ustadz Latif. Meskipun demikian, perlu usaha ekstra untuk meningkatkan semangat mereka mengaji dan belajar agama. Terlebih, orang tua mereka juga tidak terlalu memperhatikan hal tersebut.


Dari TPA sederhana yang dibangun dari kayu itu, malam-malam di Diaq Lay tak lagi sunyi, Anak-anak Diaq Lay tiap malam menghafalkan doa, melantunkan ayat-ayat yang tidak mudah untuk mereka paham dan hafal.


Karena sebagian anak-anak tidak rutin ke TPA, mereka sering lupa kembali pelajaran sebelumnya. Ada sekitar 19 anak, tetapi tidak semuanya datang setiap hari. Beberapa bahkan belum mampu membaca doa atau bacaan shalat dengan baik, padahal sudah duduk di bangku sekolah menengah. 


“Kadang yang datang lima, besoknya dua, besoknya lagi tiga belas,” ujarnya sambil tertawa kecil, “semangat mereka masih berubah-ubah,” lanjutnya.


Mengejar Anak-anak TPA Hingga ke SD

Melihat kondisi ini, Ustadz Latif mengambil langkah baru, ia mengajukan diri untuk membantu mengajar agama di SDN 05 Muara Wahau.




“Dengan begitu, mau tidak mau anak-anak yang tidak bertemu dengan saya di TPA akan bertemu saya di kelas,” ucapnya setengah berkelakar, “mereka belum bisa ngaji, belum bisa bacaan shalat tapi sangat susah untuk di ajak ke masjid,” sambungnya.


Akhirnya setiap hari Senin dan Rabu, anak-anak TPA yang malas datang ke masjid mau tidak mau harus belajar agama bersama Ustadz Latif di sekolah.


Karena memang minoritas, siswa agama islam di setiap jenjang kelas SDN 05 tersebut terbilang sedikit, seperti kelas 5 yang ia ampuh, hanya memiliki 6 orang siswa yang Islam.


Berbagai strategi ia jalankan untuk menarik minat anak-anal muallaf Diaq Lay, hingga membuat perlombaan atau event bersama. Perlahan, mereka menunjukkan progres yang baik, meskipun butuh waktu lama untuk mengajarkan mereka hingga benar-benar paham dan lancar pada praktiknya.


"Memang perlu waktu yang cukup lama mengjari mereka, terkadang butuh dua pekan hingga satu bulan untuk mereka menghafal satu doa atau bacaan shalat dan lancar mempraktikkannya." ungkap dai muda itu.


Pulang Balik 26 km untuk Mengajar

Selain rutinitas di Desa Diaq Lay, dai Dewan Dakwah tersebut juga pulang pergi setiap selasa, kamis, dan jumat sejauh 26 km untuk mengajar di SMP IT Bina Insan Muara Wahau. 


Dengan motor dari yayasan tersebut, Ustadz Latif menempuh perjalanan panjang setiap 3 hari dalam sepekan.


Baca Juga: Dakwah di Kampung Opang, Ketulusan Ustadz Riswan di Tengah Kentalnya Adat Aluk Todolo


Dakwah Door to Door hingga Majelis Taklim

“Mohon maaf ustadz, kami tidak terbiasa shalat tepat waktu di masjid. Mungkin sebagian dari kami ada yang shalatnya di ladang, di tempat kerja…” jelas salah seorang warga ketika Ustadz Latif ketika mengunjungi rumahnya.


Ustadz Latif memahami betul kondisi itu. Ia tidak mungkin memaksa mereka. Karena itu, ia memilih memperkuat pondasi lewat anak-anak dan ibu-ibu majelis taklim setiap Jumat, sambil perlahan membangun kedekatan melalui dakwah door to door



Di lain kesempatan, Dai Dewan Dakwah itu juga memberikan layanan bekam kepada masyarakat yang meminta.


Para dai dan daiyah yang dibiayai oleh donatur LAZNAS Dewan Dakwah telah membawa perubahan nyata di berbagai wilayah di penjuru negeri. Yuk, jangan lewatkan kisah dai dan daiyah Dewan Dakwah lainnya. Dukung dan ikuti perjalanan mereka dalam Membangun Negeri dari Pedalaman.


Turut ambil peran dalam perubahan besar, sampaikan donasi kegiatan dakwah sahabat melalui LAZNAS Dewan Dakwah.


---
Oleh: Nur Aisyah

Bagikan :

Berita Lainnya

Artikel Sejenis