LAZNAS Dewan Dakwah - Pagi hari di balik gunung dan rimbunnya pepohonan Ngoyo, langkah-langkah kaki kecil telah berderap, berhenti untuk menanti di depan kediaman Ustadz Aria, menunggunya untuk berangkat bersama ke sekolah.
Pedalaman Ngoyo yang Terang
Baru kurang lebih 5 hari Dai muda Dewan Dakwah, Aria Widodo menapaki tanah di pedalaman untuk mengantarkan pesan dakwah. Ia begitu tersentuh dengan kondisi nyata yang tengah ia hadapi.
“Ternyata pedalaman seterang ini, terang hati dan terang harapan kepada anak-anak agar tumbuh dalam ketaatan kepada Allah, harapan dan penantian mereka sudah ada di depan mata, antusias senang dan gembira terlihat dari mata mereka,” Ustadz Arya membatin.
Anak-anak itu penuh senyum dan semangat. Setiap selesai maghrib, mereka akan menghampiri Ustadz Aria, memperdengarkan bacaan tilawah mereka dan meminta dai muda tersebut mengkoreksi dan mengajar mereka mengaji.
Lipi dan Semangatnya
Di antara 14 anak binaan Ustadz Aria, Lipi adalah salah satu dari mereka. Tidak seperti kawan-kawannya yang lain, Lipi adalah anak spesial, ia mengalami keterbelakangan dalam berbicara.
Namun di tengah kondisinya, Lipi justru menjadi anak yang paling rajin diantara sebayanya. Setiap shalat, mengaji, hingga belajar di sekolah, ia selalu ingin berada di barisan terdepan.
“Biasanya Lipi selalu ingin mengaji lebih dulu. Tidak hanya semangat belajar agama, kalau di sekolah Lipi jagonya menggambar,” tutur Ustadz Arya sambil tersenyum
Anak yang duduk di kelas tiga SD itu kini sudah iqra 2. Ditemani cahaya senter di tengah Ngoyo yang temaram, dengan kesungguhan Lipi membaca baris demi baris huruf di iqranya, berusaha agar bacaannya terdengar jelas di telinga kawan-kawannya dan Ustadz Aria.
“Saya tak kuasa menahan tangis, apa yang ia lantunkan tidak jelas di telinga tapi menimbulkan keharuan dan kesedihan yang mendalam. Bagaimana mungkin seorang anak kecil yang memiliki masalah dalam bicara justru sangat antusias membaca dan belajar bersama da'i,” tutur Ustadz Aria dengan mata berkaca-kaca
Meski mungkin apa yang diucapkannya terdengar sumbang, semangat Lipi justru menjadi cahaya yang menerangi pedalaman.
Kehadiran Ustadz Aria di tengah pedalaman Ngoyo tersebut menjadi pemantik bagi anak-anak, cahaya-cahaya Ngoyo yang siap bersinar lebih terang.