Potret Getir Pejuang Pendidikan: Ibu Yaya, Sepuluh Tahun Mengabdi dengan Honorarium Rp 500 Ribu

Dipublikasikan : 07 Mar 2026

Potret Getir Pejuang Pendidikan: Ibu Yaya, Sepuluh Tahun Mengabdi dengan Honorarium Rp 500 Ribu

LAZNAS Dewan DakwahDi balik riuh tawa anak-anak PAUD Salsabila Rawakidang, Kabupaten Tangerang, tersimpan kisah ketangguhan yang menyayat hati. Ibu Yaya Sutisyanah, seorang guru honorer yang telah sepuluh tahun menjadi "arsitek" karakter bagi generasi masa depan, kini tengah berjuang melawan impitan ekonomi yang kian menyesakkan.

Yaya Sutisyanah telah menjadi kompas bagi anak-anak di SPS Salsabila selama sepuluh tahun terakhir. Dengan beban ajar 24 jam setiap pekanya, ia adalah arsitek pertama bagi karakter generasi masa depan. Namun, saat bel pulang berbunyi, sang guru harus berhadapan dengan aritmatika hidup yang terasa kejam.

Setiap arinya sebagai guru bantu ia hanya menerima upah Rp.2000 hingga Rp.3000 saja, itupun jika anak-anak hadir. Angka ini tampak kerdil jika dibandingkan dengan daftar pengeluaran yang mencapai jutaan rupiah untuk makan, pendidikan anak, hingga biaya kuliahnya sendiri yang tengah ia perjuangkan demi masa depan yang lebih baik.

Hidup dalam kondisi menumpang di rumah orang tua, mertua dan kakak yang gangguan jiwa, serta lilitan utang bulanan, telah menjadi "ruang kelas" kedua tempat ia belajar tentang kesabaran yang sesungguhnya.

Kisah Ibu Yaya adalah potret nyata dari seorang "Mustahik" yang tetap memilih untuk menjadi pelita.

Baca Juga: Menembus Riak Sungai Daau Sembuluh, Ustadz Darmayadi Jaga Akidah di Desa Palingkau

Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi tanpa batas tersebut, LAZNAS Dewan Dakwah menyalurkan bantuan berupa insentif tunai dan paket logistik pangan bagi Ibu Yaya.

Bantuan ini diharapkan mampu mengurai sedikit demi sedikit benang kusut aritmatika hidup yang selama ini menghimpitnya, memberikan ruang napas bagi Ibu Yaya untuk tetap fokus mengajar tanpa harus terus-menerus cemas akan dapur yang tidak mengepul atau biaya kuliah yang tertunggak.

Penyaluran ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Program Bahagiakan Guru Honorer, yang menyasar para pejuang pendidikan di pelosok negeri. Melalui dana zakat dan sedekah yang dititipkan oleh para muhsinin, LAZNAS Dewan Dakwah berupaya memastikan bahwa mereka yang mengajarkan arti "cita-cita" kepada anak-anak kita, tidak dibiarkan kehilangan harapan akan cita-citanya sendiri.

Kisah Ibu Yaya adalah pengingat bagi kita semua: bahwa di balik setiap ijazah yang kita miliki, ada doa dan peluh guru-guru yang mungkin saat ini sedang kesulitan membeli beras untuk keluarganya. Mari bersama kita muliakan mereka, karena dengan menjaga kehormatan para guru, kita sedang menjaga masa depan bangsa.

Bagikan :

Berita Lainnya

Artikel Sejenis