LAZNAS Dewan Dakwah - Tulungagung, Jawa Timur, wilayah yang kental dengan sejarah Islamnya. Desa Kauman salah satunya, menjadikannya destinasi menarik bagi wisatawan yang ingin mempelajari sejarah dan budaya Islam.
Dari salah satu bangunan yang masih dalam tahap pembangunan, geliat dakwah tumbuh berkembang.
Ustadzah Lisna Nur Afifah, daiyah Dewan Dakwah yang tengah mengemban amanah pengabdian di Desa Kauman. Bukan hanya dengan semangat, Ustadzah Lisna bertekad untuk menghidupkan kembali denyut dakwah di pedesaan. Sambutan masyarakat pun hangat, seolah menanti cahaya baru yang lama mereka rindukan.
Setiap sore, suara tawa anak-anak terdengar riang. Mereka berlarian kecil sebelum akhirnya duduk rapi di dalam masjid. Di hadapan mereka, Ustadzah Lisna mulai mengajarkan huruf-huruf hijaiyah, doa-doa pendek, hingga hafalan surat.
“Dulu hanya delapan anak yang ikut TPA,” katanya sambil tersenyum. “Alhamdulillah, sekarang sudah dua belas. Mereka semakin semangat, bahkan sudah hafal sembilan ayat dari Surah An-Naba,” tutur daiyah muda tersebut.

Setiap Rabu sore, ada momen yang paling ditunggu: menonton sirah Nabawiyah bersama. Dari kisah perjuangan Nabi Muhammad saw, anak-anak belajar arti keberanian dan keteladanan. Anak laki-laki juga mulai dilatih adzan dan menjadi imam sholat, bekal kecil untuk peran besar di masa depan.
Baca Juga: Membangun Kembali Keislaman Mualaf di Wilayah Minoritas Muslim
Perubahan tak hanya datang dari anak-anak. Para ibu pun mulai meramaikan masjid. Jika sebelumnya hanya dua orang yang sholat berjamaah, kini jumlahnya bertambah menjadi enam. Setiap Jumat dan Minggu pagi, mereka berkumpul untuk tadarus bersama.
Peningkatan ini berkat ketekunan dai muda tersebut menyambangi dan bersilaturahmi dengan ibu-ibu desa Kauman setiap harinya. Sehingga tidak hanya di masjid semata, dakwahnya juga ia lakoni dari rumah ke rumah.
Tak berhenti di situ, beberapa program baru mulai disiapkan. Salah satunya PAUD Qur’an untuk anak-anak usia dini. Ada pula program ngaji online yang ditujukan bagi para ibu agar bisa belajar kapan saja.

“InsyaAllah dalam beberapa bulan ke depan, program ini mulai berjalan. Doakan semoga lancar,” ucapnya penuh optimisme.
Dari desa kecil di Tulungagung, tumbuh harapan besar. Harapan agar generasi qur’ani lahir, agar masjid semakin hidup, dan agar dakwah terus menyala.