Mohammad Natsir dan Perjuangan Kemerdekaan Palestina

Published : 29 Nov 2023

Mohammad Natsir dan Perjuangan Kemerdekaan Palestina

LAZNAS Dewan Dakwah - Mohammad Natsir adalah salah satu tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pertama, dari tahun 1950 hingga 1951. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang ulama dan pemikir Islam yang progresif.

Pak Natsir memiliki perhatian yang besar terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. Ia melihat bahwa perjuangan Palestina merupakan bagian dari perjuangan umat Islam di seluruh dunia. Pak Natsir percaya bahwa kemerdekaan Palestina adalah hak yang tidak dapat ditunda-tunda lagi.

Pak Natsir mulai aktif memperjuangkan kemerdekaan Palestina sejak awal tahun 1940-an. Ia sering memberikan ceramah dan pidato untuk menyuarakan dukungannya terhadap perjuangan Palestina. Pak Natsir juga aktif dalam organisasi-organisasi internasional yang membela hak-hak Palestina, seperti Liga Arab dan Organisasi Konferensi Islam.

Pada tahun 1946, Pak Natsir menjadi pemimpin delegasi Indonesia dalam Konferensi Liga Arab di Mesir. Dalam konferensi tersebut, Pak Natsir berhasil meyakinkan negara-negara Arab untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Pak Natsir juga berhasil mendapatkan dukungan negara-negara Arab untuk perjuangan kemerdekaan Palestina.

Pak Natsir terus melanjutkan perjuangannya untuk kemerdekaan Palestina setelah Indonesia merdeka. Ia sering mengunjungi negara-negara Arab untuk menggalang dukungan internasional terhadap perjuangan Palestina. Pak Natsir juga aktif dalam upaya-upaya perdamaian di Timur Tengah.

Tokoh dan pemimpin Islam almarhum Mohammad Natsir (mantan Perdana Menteri RI dan Wakil Presiden Muktamar Al-Alam Al-Islami) setelah terjadinya pembakaran Masjidil Aqsha oleh Israel sekitar tahun 1969 mengatakan bahwa Masjidil Aqsha adalah “tanah air rohaniah-nya” umat Islam seluruh dunia. Masalah Palestina adalah soal perikemanusiaan yang universal. Masjidil Aqsha akan dijadikan satu daerah internasional, didukung Paus dari vatikan (waktu itu), akan tetapi justru orang-orang Katholik sendiri yang ada di sana dari pemimpin-pemimpin Greek Orthodox dan Romse Katholik menentang internasionalisasi Masjidil Aqsha.

Lebih lanjut, kata almarhum Pak Natsir “Satu rupiah yang dikirimkan ke sana atas nama umat Islam yang ada di Indonesia ini efek psikologisnya, efek mentalnya, bukan main hebatnya. Dalam ilmu politik, dunia ini tidak dapat lagi dipisahkan-pisahkan. Interdependen bahwa apa yang terjadi dalam jarak ribuan mil dari kita akan mengakibatkan kesulitan-kesulitan kita atau kebaikan bagi kita yang jauh dari tempat itu. Mari kita menyumbang sambil berdoa. Yang kita sumbang bukan mereka saja, tapi juga kita sumbang kekuatan dan keselamatan kita sendiri yang sesungguhnya berada di font juga.”

Dalam Muktamar Alam Islami di Damaskus tahun 1965 yang membicarakan soal Israel, dihadiri negara-negara Islam dari berbagai penjuru Afrika dan Asia,  Pak Natsir selaku ketua sidang mengajukan pertanyaan yang agak diplomatis, “Saudara Arab, ada tujuh negara Arab menghadapi satu Israel, kenapa Islam kalah? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Sayid Ramadhan, “Justru karena kami bertujuh dan Israel bersatu, maka kami kalah.”

Pak Natsir meninggal dunia pada tahun 1993. Namun, perjuangannya untuk kemerdekaan Palestina masih terus dikenang hingga saat ini. Ia merupakan salah satu tokoh yang berjasa dalam memperjuangkan hak-hak Palestina.

Pak Natsir sering memberikan ceramah dan pidato untuk menyuarakan dukungannya terhadap perjuangan Palestina. Ia juga menulis buku dan artikel tentang Palestina untuk meningkatkan kesadaran masyarakat internasional akan pentingnya perjuangan tersebut.

Perjuangan Mohammad Natsir untuk kemerdekaan Palestina merupakan bagian dari komitmennya untuk membela hak-hak asasi manusia dan keadilan. Ia percaya bahwa perjuangan Palestina adalah perjuangan yang adil dan harus didukung oleh semua umat manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

(mhh)

Share :

More News

Similar Articles