Mohammad Natsir, Seorang Guru dan Cendekiawan serta Penulis yang Handal

Waktu Posting : 25 Nov 2023

Guru Teladan dengan Semangat Juang yang Tinggi itu Mohammad Natsir

LAZNAS Dewan Dakwah - Pesan Mohammad Natsir tentang kondisi jiwa bangsa itu sangat penting untuk dicermati. Sebab, pesan itu keluar dari hati nurani seorang pejuang, pahlawan nasional, dan guru teladan. Mohammad Natsir dikenal sebagai negarawan, juru dakwah, ilmuwan, dan sekaligus tokoh pendidikan Indonesia.

Didorong oleh semangat perjuangan yang tinggi dan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan, Natsir berhasil membuktikan dirinya sebagai seorang guru dan cendekiawan serta penulis yang handal. Sebagai guru, Natsir membuktikan diri sebagai guru adab dan akhlak yang hebat. Ia bukan saja mengajar, tetapi memberikan contoh dalam hal kecintaan kepada ilmu dan perjuangan. Sebab, pendidikan adab atau akhlak memang memerlukan ketaladanan, pembiasaan, dan pemotivasian.

Kisah perjalanan Mohammad Natsir dengan lembaga Pendidikan Islam yang dirintisnya  sangat menarik untuk disimak. Pendis (Pendidikan Islam) didirikan tahun 1932. Natsir yang ’lulusan AMS’ (setingkat SMA saat ini) mengambil langkah berani dan sangat idealis. Tujuan Pendis – seperti ditulis oleh Dr. Muhammad Noer dalam artikelnya berjudul ’Ideologi Pendidikan Islam Mohammad Natsir (Jurnal Pendidikan Islam, ABIM, Jld. Bil. 3, juni 1999) — adalah untuk ’mencari alternatif dari sistem pendidikan kolonial Belanda’. 

Sistem pendidikan di Pendis menitikberatkan pada: ”pembentukan pribadi yang berdaya pikir berkesinambungan daya pikir dan hati nuraninya, seimbang daya cipta dan taat tawakkalnya kepada Allah SWT.”  Menurut KH Rusyad Nurdin, murid angkatan pertama Pendis, sekolah ini dimulai dengan lima murid. Dalam 10 tahun (1932-1942), Pendis berpindah lokasi sebanyak empat kali. Tetapi, akhirnya Pendis sempat membuka cabang di Bogor, Cirebon, Jatinegara, Tanjung Priok, Kalimantan, dan sebagainya.

Kisah pendirian dan perjalanan Pendis menunjukkan, kualitas Mohammad Natsir sebagai guru, pemimpin, dan juga pejuang. Di tengah kuatnya hegemoni pendidikan sekuler yang ditanamkan oleh pemerintah kolonial Belanda, Natsir berani mengambil terobosan penting dalam memperjuangkan sistem pendidikan yang sesuai dengan konsep pendidikan Islam.

Natsir yakin bahwa kunci kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas guru. Mengutip ungkapan Dr. Nieuwenhuis, Natsir menyatakan: ”Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.”

Dan Natsir membuktikan dirinya sebagai guru yang hebat. Kesuksesan Natsir sebagai seorang guru juga tidak bisa dilepaskan dengan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan.  Kecintaan dan kegigihannya dalam belajar mengantarkannya menjadi salah seorang ilmuwan dan cendekiawan terkemuka di Indonesia. Tetapi, Natsir bukan sekedar ilmuwan dan penulis biasa. Dia bukan cendekiawan yang ”sok netral” yang hanya rajin mengumpulkan data untuk semata-mata riset ilmiah atau menulis sekedar atas ’pesanan sponsor’.  Bahkan, Natsir kadangkala harus mencari dana sendiri untuk menyebarluaskan tulisannya. ”Kadangkala Pak Natsir menemui pedagang-pedagang di Tanah Abang menawarkan kepada mereka untuk membantu penyebaran tulisannya,” ujar seorang pengurus Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.

Tulisan-tulisan Natsir mengandung visi dan misi yang jelas dalam pembelaan terhadap agama yang dipeluknya. Dalam buku-buku dan artikel-artikel yang ditulisnya tentang berbagai masalah dalam Islam, kita bisa menemukan semangat dan kepercayaan diri yang tinggi dari seoang Natsir yang sama sekali tidak ’minder’ atau rendah diri menghadapi serbuan paham sekularisme Barat. Prestasinya di sekolah-sekolah Belanda telah menjadikan Natsir seorang yang ’percaya diri’ dan tidak silau dengan kehebatan pemikiran sekuler, yang waktu itu begitu banyak menyihir otak kaum terpelajar dan elite bangsa. 

Dalam pengantarnya untuk buku Capita Selecta (1954), Zainal Abidin Ahmad membuat komentar tentang tulisan-tulisannya Natsir:

”Tulisannya yang berisi dan mendalam dengan susunan yang berirama dan menarik hati, sangatlah memikat perhatian para pembaca. Bukan saja karena kata-katanya yang terpilih, yang disusun menurut caranya tersendiri itu, melainkan lebih utama lagi karena isinya yang bernas mengenai soal-soal sosial, ekonomi dan politik yang menjadi kebutuhan bangsa kita pada waktu itu. Semuanya dijiwainya dengan semangat dan ideologi Islam yang menjadi pegangan hidupnya.”

”Natsir,” kata Zainal Abidin Ahmad, ”Mengetahui betul kapan dia harus berteriak memberi komando untuk memimpin perjuangan bangsanya, dan dia tahu pula kapan masanya dia berkelakar dan bergembira untuk menghibur, membangkit semangat baru bagi perjuangan. Dengan lain perkataan, dia tahu waktunya untuk membunyikan terompet dengan genderang perang, jika ia hendak menghadapi lawan yang menentang cita-cita Islam, baik terhadap bangsa penjajah maupun terhadap bangsa sendiri yang belum menginsyafi akan ideologi Islam itu.”  ( Lihat, Pengantar Zainal Abidin Ahmad untuk buku M. Natsir, Capita Selecta (Jakarta: Bulan Bintang, 1973, cetakan ketiga.)

Moh. Roem menduga, kecermatan dan ketelitian Natsir dibangun dari kebiasaannya mempelajari al-Quran dengan teliti. ”Bahasa Natsir dihargai orang, malah dipuji orang. Menurut Bung Hatta, ada suatu masa, yang Presiden Soekarno tidak mau menandatangani sesuatu penerangan resmi, yang tidak disusun oleh Natsir.” (Mohamad Roem, ”Kelemahan atau Kebesaran Natsir”, dalam Anwar Harjono dkk., Mohammad Natsir… hlm. 387).

Pada  sekitar tahun 1930-an, dalam usia sekitar tiga puluhan, Natsir telah aktif menulis tentang berbagai persoalan keilmuan dan terlibat dalam perdebatan ilmiah dengan berbagai kalangan. Melalui tulisan-tulisannya, ketika itu, tampak Natsir sudah membaca berbagai literatur tentang aqidah, sejarah, ilmu kalam, tasawuf, filsafat, syariah, perbandingan agama, dan sebagainya.  Hampir dalam setiap tulisannya, Natsir mampu meramu dengan baik, sumber-sumber dari kalangan Muslim maupun karya-karya orientalis Barat. Ambillah satu contoh sebuah artikel berjudul ”Muhammad al-Ghazali (450-505 H, 1058-1111)”, yang dimuat di majalah Pedoman Masyarakat, April 1937.  

Dalam artikel ini, Natsir memaparkan keagungan pemikiran dan kiprah al-Ghazali dibandingkan dengan prestasi ilmuwan-ilmuwan Barat. Kitab Maqashidul Falasifah-nya al-Ghazali, misalnya, sudah diterjemahkan oleh Dominicus Gundisalvus ke bahasa Latin pada abad ke-12 M. Di sini, Natsir juga menguraikan teori kausalitas al-Ghazali yang mendahului teori David Hume (1711-1776) tujuh ratus tahun sebelumnya. Natsir membantah bahwa David Hume lah sarjana pertama yang mengungkap teori kausalitas (causaliteitleer). Natsir tidak menolak jasa David Hume dalam soal ini. Tetapi, tulisnya, ”jangan dilupakan, bahwa 700 tahun sebelum David Hume, telah pernah seorang filosof Muslim di daerah Timur yang mengupas masalah ini dalam Kitabnya, Tahafutul Falasifah.”

Itulah Mohammad Natsir. Dan itulah sebagian pesan penting dan kiprahnya dalam dunia pendidikan dan keilmuan di Indonesia. Adalah menarik jika menilik perjalanan pendidikan Mohammad Natsir. Tahun 1916-1923 M. Natsir memasuki HIS (Hollands Inlandsche School) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, M. Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung. Lulus dengan nilai tinggi, ia sebenarnya berhak melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum di  Batavia, sesuai dengan keinginan orang tuanya, agar ia menjadi Meester in de Rechten, atau kuliah ekonomi di Rotterdam. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi.

Tetapi, semua peluang itu tidak diambil oleh Natsir, yang ketika itu sudah mulai tertarik kepada masalah-masalah Islam dan gerakan Islam. Natsir mengambil sebuah pilihan yang berani, dengan memasuki studi Islam di ‘Persatuan Islam’ di bawah asuhan Ustad A. Hasan. Tahun 1931-1932, Natsir mengambil kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs).  Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung.

Natsir memang seorang yang haus ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Salah satu murid M. Natsir, Syuhada Bahri menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun bersama gurunya. Hingga menjelang akhir hayatnya, Pak Natsir, menurut Syuhada Bahri,  selalu mengkaji Tafsir al-Quran. Tiga Kitab Tafsir yang dibacanya, yaitu Tafsir Fii Dzilalil Quran, Tafsir Ibn Katsir, dan Tafsir al-Furqan karya A. Hasan.

Kecintaan Natsir di bidang pendidikan dibuktikannya dengan upayanya untuk mendirikan sejumlah universitas Islam. Setidaknya ada sembilan kampus yang Natsir berperan besar dalam  pendiriannya, seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan sebagainya.  Tahun 1984, Natsir juga tercatat sebagai Ketua Badan Penasehat Yayasan Pembina Pondok Pesantren Indonesia. Di bidang pemikiran, tahun 1991, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia. Berbagai penghargaan internasional lainnya diterima Mohammad Natsir dari berbagai negara.

Kembali kepada pesan Mohammad Natsir tentang kondisi jiwa bangsa yang sangat mengkhawatirkan, karena dicengkeram penyakit ”cinta dunia” dan bakhil pengorbanan. Pendidikan Nasional Indonesia sudah sepatutnya secara sungguh-sungguh memperhatikan masalah ini. Pembangunan jiwa bangsa harus menjadi perhatian utama program pendidikan nasional.

Sesuai dengan UUD 1945 pasal 31 ayat (c) dan UU No 20/2003 serta UU No 12/2012, pendidikan nasional ditujukan untuk membentuk manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Tujuan mulia ini tidak akan bisa terwujud jika para pemimpin bangsa tidak dapat menjadi teladan bagi rakyatnya.

Mohammad Natsir telah memberikan pesan-pesan mulia dan memberikan keteladanan perjuangan. Jika bangsa kita ingin sehat jiwanya dan meraih kejayaan maka keteladanan dan pesan-pesan Mohammad Natsir bisa dijadikan sebagai salah satu rujukan. Wallahu a’lam bish-shawab.

(Makalah ini pernah disampaikan dalam acara Seminar tentang Keteladanan Tokoh Bangsa:  KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, dan Mohammad Natsir, oleh Kemendikbud RI, di Jakarta, pada 24 Mei 2018).

Editor: Dudy S.Takdir (mediadakwah.id)

Campaign Lainnya

Semua Cerita Sukses Kami