LAZNAS Dewan Dakwah - Islam, adalah agama pengingat dan nasehat. Bahkan di dalamnya semua isinya Islam adalah nasehat. Oleh karenanya kali ini akan dibahas tentang keutamaan saling menasehati antar muslim menurut hadist shahih.
Di dalam Islam pun kita sebagai pengikutnya diperhatikan untuk saling menasehati dan mau menerima nasihat.
Hal ini juga sama seperti Allah Subhanahu wa Ta'ala sampaikan di dalam firmanNya:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al 'Ashr, 1-3)
Berikut ini merupakan beberapa hadis yang memuat tentang anjuran untuk saling nasehat-menasehati, yaitu:
1. Terdapat Hadis dari Tamim Ad Dariy radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
الدين النصيحة قلنا : لمن ؟ قال : لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم
“Agama adalah nasehat”. Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?”. Beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan umat muslim seluruhnya” (HR. Muslim).
2. Dari Uqbah bin 'Amr radhiyallahu 'anhu, Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya."
(HR. Muslim)
3. Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu berkata:
"Tidak ada kebaikan pada kaum yang tidak saling menasehati, dan tidak ada kebaikan pula pada kaum yang tidak mencintai nasehat." (Al-Istiqomah)
4. Dari Abu Darda radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
"Bila salah seorang temanmu berubah dan berbuat dosa, maka janganlah meninggalkannya dan membuangnya, tapi nasehatilah dengan nasehat yang terbaik, dan bersabarlah karena saudaramu itu terkadang bengkok dan terkadang lurus." (Hilyatul Auliya)
5. Imam Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah berkata:
"Seorang mukmin itu biasa menutupi aib saudaranya dan menasehatinya. Sedangkan orang fajir (pelaku dosa) biasa membuka aib dan menjelek-jelekkan
Saudaranya." (Jami'ul Ulum wal Hikam)