LAZNAS Dewan Dakwah - Jejak lumpur yang belum sepenuhnya mengering dan rintik hujan yang turun pelan di Desa Durian, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, menyimpan cerita getir tentang perjuangan warganya. Selama hampir satu bulan, lebih dari 27 hari, desa ini hidup dalam kondisi krisis air bersih.
Ibu Ela Martini, seorang ibu rumah tangga, masih mengingat jelas hari-hari sulit itu. Ketika rasa haus dan lapar datang bersamaan, pilihan rasional kerap kalah oleh kebutuhan untuk bertahan hidup. Dalam kondisi yang serba darurat, sebagian warga tak punya pilihan selain mengambil air berlumpur, air yang seharusnya tak layak, bahkan untuk sekadar disentuh, untuk diminum.
Yang paling menyayat hati, air keruh itu juga terpaksa diberikan kepada anak-anak mereka.
“Daripada kelaparan dan kehausan,” tutur Ibu Ela lirih, “apa yang ada kami makan, sedikit demi sedikit asal bisa bertahan. Anak-anak bertanya air apa ini, saya bilang air tebu. Saya berikan malam hari, supaya warnanya tidak terlihat.”
Hari-hari itu menjadi ujian berat bagi warga Desa Durian, hari ketika seorang ibu harus menyembunyikan kenyataan pahit demi menenangkan anaknya.
Harapan yang Datang di Saat Paling Dibutuhkan
Di tengah situasi yang kian genting, uluran kepedulian mulai hadir. Melalui amanah masyarakat Indonesia, LAZNAS Dewan Dakwah menyalurkan bantuan ke wilayah terdampak. Tidak hanya berupa bantuan logistik, tetapi juga solusi jangka panjang.
Sebuah instalasi filtrasi air bersih dibangun, mengolah air yang sebelumnya tidak layak menjadi air sehat siap konsumsi. Bagi Ibu Ela dan ratusan warga lainnya, ini bukan sekadar bantuan, melainkan jawaban atas kebutuhan paling mendasar: air untuk hidup.
Perubahan yang Benar-Benar Terasa
Kini, gelas-gelas di rumah warga tak lagi berisi air keruh. Air jernih yang aman diminum mengalir dan mengubah keseharian mereka. Setidaknya, ada dua perubahan besar yang langsung dirasakan masyarakat: kesehatan yang lebih terjaga dan ketenangan yang perlahan kembali.
Bagi warga Aceh Tamiang, air bersih bukan lagi sekadar harapan, ia telah menjadi kenyataan yang menghidupkan.