Loading....
LAZNAS Dewan Dakwah - Makanan menjadi modal kita untuk bertahan hidup. Semua makhluk yang bernapas membutuhkan makanan untuk terus hidup dan berkembang. Keadaan menyakitkan sekaligus memperihatinkan terjadi di Gaza. Saudara kita bukan hanya dapat diserang dengan senjata, mereka juga diserang kelaparan yang nyata.

Pilu, sauadara di Gaza harus makan makanan yang tak layak; makanan ternak, sampai mengais sampah untuk menemukan bahan makanan. Bahkan mereka mengais tepung yang berserak di jalanan yang ramai terinjak, mereka mecari makanan agar bisa bertahan di tengah keterbatasan.
Kita buang makanan tanpa bersalah, warga Gaza mencari makan berdarah-darah. Ini bukan kiasan, tapi ini adalah kenyataan. Lebih dari 150 hari, 5 bulan lamanya warga Gaza terus-terusan diserang. Bom demi bom masih terus dilancarkan, peluru demi peluru terus ditembakan.
Sudah lebih dari 30.000 jiwa yang wafat selama 150 hari terakhir ini. Anak-anak dan perempuan serta lansia adalah korban yang paling banyak. Gaza yang damai menjadi rawan dan menyeramkan. Tidak ada tempat aman di Gaza. Di siang hari, warga Gaza menanti bantuan di saat itu juga mereka diserbu peluru tanpa ampunan. Mereka membeli makanan termahal karena dibayar dengan nyawa.
Di malam hari, mereka tidak boleh terlelap dengan mimpi-mimpi. Sebab Israel akan membombardir tenda mereka. Di pagi hari, mereka mengevakuasi dan mengumpulkan jenazah yang telah syahid.
150 hari yang menyakitkan. Bukan hanya dibvnuh dengan kejam. Mereka juga dibvnuh secara perlahan karena kedinginan dan kelaparan. Darah dan luka adalah hal yang pasti terlihat demi membawa makanan ke tenda demi keluarga. Kekurangan gizi adalah kondisi warga Gaza saat ini.
Jangan biarkan makanan di sana seharga nyawa, mari bersama kita bantu kuatkan perjuangan, bantu mereka bertahan dengan kirimkan makanan.