Selamat dari Maut Semeru, Kakek Tumiran: “Sarung Saya Sisa Satu”


13 Des 2021

Penyaluran Rp 0

Laznas Dewan Da'wah-Di tengah hujan yang mengguyur Desa Penanggal, salah satu relawan Laznas Dewan Da'wah, Agus, memanggil seorang bapak tua yang nampak kuyup di atas motornya. Mendengar ia dipanggil, bapak itupun langsung menepikan motornya di shelter Laznas Dewan Da'wah. Kakek Tumiran itu merupakan korban selamat dari maut erupsi Semeru, Pak Tumiran.

Dari obrolan bersama tim Laznas Dewan Da'wah, bapak ini memperkenalkan dirinya sebagai Tumiran. Kakek Tumiran adalah salah satu warga yang selamat dari maut yang merupakan warga dari Desa Curah Kobokan. Salah satu desa yang berada di lereng gunung dan diketahui sudah rata dengan lahar dingin.

Pada hari erupsi pertama Semeru (4/11), ia dan cucunya berada di rumah. Tatkala muntahan gunung meluncur dari atas, keduanya berlindung di balik tembok.

Pak Tumiran memeluk cucunya dengan erat. Dengan sedikit kekuatan, ia kemudian nekat keluar menggendong cucunya. Lahar dingin ternyata telah menjamah halaman rumahnya. Demi melewati lahar tersebut, ia mengambil papan kayu sembarang sebagai jembatan. Lahar sempat membakar papan kayu tersebut hingga Pak Tumiran harus menahan sakit karena luka bakar, sampai akhirnya ia dan cucunya berhasil melewatinya.

Pak Tumiran bersyukur motornya masih terpakir tidak jauh dari rumah. Kendaraaan itulah yang membawanya berlomba dengan muntahan gunung. Meski ia - dan cucunya yang berada di depan jok - terlepas dari kejaran lahar, namun awan panas masih bisa menyentuh punggungnya dan melubangi jas hujan yang ia kenakan.

Alhamdulillah Pak Tumiran dengan cucunya berhasil selamat, begitu pula dengan istri dan menantunya yang sudah lebih dahulu melarikan diri. Namun nahas, anaknya yang bekerja di pertambangan pasir, wafat digulung lahar dingin. Di tambah lagi kebun dan ternaknya habis tidak bersisa.

Pak Tumiran tidak terlalu bisa berbahasa Indonesia. Bahkan tim media Laznas Dewan Da'wah ketika hendak mendokumentasikan kisahnya, mesti mendengar terjemahannya dulu dari warga lokal.

Namun, ada kalimat bahasa Indonesia yang masih bisa ia ucapkan: "Sarung saya tinggal satu, itupun sudah terbakar."

Program tebar sarung dan mukena yang dikerahkan Laznas Dewan Da'wah bagi warga terdampak erupsi Semeru, memang menjadi program yang berpotensi memiliki manfaat yang luas.

Salah satu contohnya adalah Pak Tumiran. Dialah salah satu gambaran warga terdanpak tang meski kehilangan keluarga, harta - dan bahkan hampir dirinya sendiri, masih memikirkan perlengkapan penunjang ibadahnya.


Bagikan :
Campaign Update