Loading....
Di ujung sunyi Bukit Barisan, di Kabupaten Seluma, berdiri sebuah rumah Allah yang sederhana namun penuh makna—Masjid Al-Wajid.
Ia tidak megah, bahkan nyaris renta: dindingnya dimakan waktu, atapnya bocor, dan pintunya seakan tak sempat hadir menjaga. Namun di balik rapuhnya bangunan itu, tersimpan kuatnya iman yang tetap hidup di dada-dada yang bersujud.
Di tempat itu, Ustadz Erpan Fadhilah mengabdi dengan sabar, menyalakan cahaya dakwah di pedalaman yang jauh dari keramaian. Setiap lantunan doa yang naik dari masjid kecil itu seolah mengetuk langit, membawa harap yang sederhana: agar rumah suci ini kembali berdiri kokoh, kembali layak menjadi tempat bertemu hamba dan Tuhannya.
Sebab membangun masjid bukan sekadar membangun dinding—ia adalah membangun jalan pulang menuju surga.