Setahun Sekali Makan Daging: Menanti Sepotong Bahagia di Ujung Pagai Selatan

Dipublikasikan : 19 Mei 2026

Setahun Sekali Makan Daging: Menanti Sepotong Bahagia di Ujung Pagai Selatan

LAZNAS Dewan Dakwah“Bagi kita, semangkuk rendang atau sepiring sate adalah menu hidangan yang biasa. Namun bagi mualaf dan minoritas muslim di Dusun Tubeket, sepotong daging adalah berkah tahunan yang mereka tunggu dengan penuh harap.”

Bayangkan sebuah Hari Raya Iduladha yang benar-benar sepi. Tidak ada gema takbir yang bersahut-sahutan dari pengeras suara masjid, tidak ada kepulan asap bakaran daging di pekarangan, dan tidak ada hilir mudik warga yang mengemas kantong-kantong berkah untuk dibagikan.

Bagi 300 jiwa (45 KK) muslim minoritas di Dusun Tubeket, Pulau Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai, riuhnya penyembelihan kurban begitu jarang mereka rasakan. Di dusun terpencil yang dikelilingi hutan lebat dan aliran sungai ini, mereka hidup sebagai minoritas Muslim tunggal di Desa Makalok. Di tanah dakwah ini, ibadah kurban menjadi satu-satunya momentum yang dinanti agar mereka bisa mencicipi rasa daging.


Baca Juga: Rebutan Daging Kurban, Potret Pilu Minimnya Hewan Kurban untuk Masyarakat Minoritas Msulim di Pelsook Manggarai Timur

Terlalu Asing

Dusun Tubeket berdiri di atas kondisi geografis yang menantang. Butuh waktu kurang lebih 6 jam membelah ombak laut dan menembus jalur darat dari pusat kota Tuapejat untuk bisa sampai ke mari. Karena akses logistik yang sangat terbatas, daging sapi atau kambing hampir tidak pernah masuk dalam kamus menu makanan warga sehari-hari.

Kondisi terisolasi ini membuat para mualaf di sana masih sangat awam dalam mengolah daging. Ada sebuah kisah nyata yang sarat akan kepolosan sekaligus kegetiran di sana. Karena saking jarangnya menyentuh daging, saat hewan kurban akhirnya tiba, beberapa warga memasaknya dengan cara langsung mencampur seluruh tulang atau bahkan tanpa memisahkan kulitnya.

Mereka bukan tidak tahu cara memasak. Mereka hanya terlalu asing, karena kesempatan berharga itu hanya datang setahun sekali, itu pun jika ada hewan kurban yang berhasil menembus ombak menuju dusun mereka. Jika tidak ada bantuan dari luar, Iduladha akan berlalu begitu saja sebagai hari yang senyap bagi para mualaf yang sedang tertatih-tatih merawat iman baru mereka.


Melihat realitas inilah, kehadiran da’i-daiyah Dewan Dakwah di lapangan, Ustadzaah Khairul Fitriyah dan suaminya, menjadi garda terdepan yang sangat krusial. Mereka tidak hanya mengajarkan Al-Qur'an di Majelis Taklim, tetapi juga memikirkan bagaimana aspek sosial dan kesejahteraan warga binaannya terpenuhi agar akidah mereka tetap kokoh.

Baca Juga: Kubran Sapi vs Kambing, Mana yang Lebih Utama?

Meneguhkan Iman Lewat Kepedulian Sosial

Tahun lalu satu kambing untuk mereka memecah kesunyian di kaki bukit Pagai itu  menjadi riuh rendah sukacita. Meski dagingnya tidak seberapa, tapi bahagianya menjadi tak terkira. 

Warga lintas usia berkumpul di halaman masjid. Tangan-tangan mereka saling merapat, bahu-membahu menguliti dan memotong daging dengan penuh gotong royong. Bagi mereka, sekecil apa pun potongan daging yang dibawa pulang ke rumah, maknanya teramat sakral.

Melalui daging kurban yang dikirimkan oleh orang-orang kota yang tak pernah mereka kenal wajahnya, para mualaf di Tubeket merasakan langsung benang ukhuwah Islamiyah. Kurban menjadi bahasa kasih paling nyata yang meyakinkan mereka bahwa mereka tidak sedang berjuang sendirian di pelosok Nusantara. LAZNAS Dewan Dakwah hadir merangkul mereka, baik secara spiritual maupun sosial.


Sahabat, yuk ikut bentengi akidah saudara mualaf kita di ujung Mentawai. Setiap hewan kurban yang Anda salurkan bukan sekadar tentang mendistribusikan zat gizi. Ini adalah tentang menghadirkan kebahagiaan hari raya yang hilang, memperkokoh ukhuwah, dan menjaga kalimat Laa ilaha illallah tetap berkumandang teguh di pelosok negeri.

Dengan Bismillah Bisa Kurban, mari hantarkan hewan kurban terbaikmu langsung ke tangan masyarakat yang paling membutuhkan.

Bagikan :

Berita Lainnya

Artikel Sejenis