Loading....
LAZNAS Dewan Dakwah – Yogyakarta, Ibu Maryanti seorang wanita berusia
51 tahun, didiagnosa menderita CKS (Cedera Kepala Sedang) yang mengharuskan beliau
menjalani tindakan craniotomy dekompresi dan juga trakeostomi.
Sebagai anak kedua dari empat bersaudara, Ibu Maryanti telah lama menjadi tiang penopang keluarganya. Ia seorang ibu yang menjalankan peran ganda sebagai ayah dan ibu bagi ketiga anaknya setelah suaminya meninggal dunia karena sakit. Setiap hari, Ibu Maryanti bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dengan berjualan sayur. Beliau adalah sosok yang sangat berarti bagi keluarganya.
Ibu Maryanti saat ini tinggal di Sentikan, Karangnongko Rt. 003 Rw. 027, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta
Namun, nasib seakan menguji keteguhannya dengan sebuah tragedi besar. Pada tanggal 12 Agustus 2024, kondisi Ibu Maryanti berubah drastis ketika ia mengalami kecelakaan motor. Ditabrak mobil dari belakang, Ibu Maryanti mengalami penurunan kesadaran dan mengeluarkan darah dari telinga kanan.
Ia pun segera dibawa ke Rumah Sakit. Kondisinya sangat kritis dengan kesadaran sopor. Ibu Maryanti berada dalam keadaan koma selama empat hari, meskipun suhu tubuh dan tekanan darahnya normal. Kondisi Ibu Maryanti tidak kunjung membaik dan akhirnya CT scan menunjukkan adanya pendarahan yang belum berhenti di bagian kepala.
Operasi kepala dilakukan, dan dua hari setelah operasi, Ibu Maryanti mengalami kesulitan bernafas. Ia harus menjalani operasi trakeostomi untuk memasang saluran oksigen melalui lehernya.
Setelah perawatan intensif tersebut, Ibu Maryanti diizinkan pulang ke rumah, tetapi dengan kondisi yang memerlukan perawatan khusus dan bantuan pramurukti karena keterbatasan keluarga dalam merawatnya. Kondisi Ibu Maryanti saat ini sangat memprihatinkan. Tangan kirinya sulit digerakkan, dan sesak nafas sering kali menghantui kesehariannya. Di rumah, ia harus bergantung pada tabung oksigen untuk membantu pernapasannya.
Setiap kali kambuh, tangan kirinya sering terasa nyeri, dan kesulitan bernafas semakin menambah penderitaannya. Hal ini membuat keluarga harus selalu siap sedia dengan oksigen dan perawatan rutin.
Ekonomi keluarganya sederhana, Ibu Maryanti dan keluarganya kini harus menghadapi tantangan besar. Selain biaya pengobatannya, beliau juga harus menanggung biaya sekolah anak-anak.. Dalam keadaan sulit ini, keluarga mengandalkan bantuan dari tetangga dan berharap pada belas kasih orang-orang sekitar.
Sebagai tulang punggung keluarga, Bu Maryanti bertekad untuk sembuh agar bisa melanjutkan kewajibannya sebagai ibu dan mendidik anak-anaknya. Ia berdoa agar diberi kesempatan untuk sembuh dan kembali menjalani kehidupannya dengan penuh semangat.
Meski berada di tengah-tengah kesulitan dan ketidakpastian, Ibu Maryanti dan keluarganya tetap berjuang dengan harapan dan doa. Mereka membutuhkan dukungan dari kita semua, baik secara moral maupun materiil, untuk membantu mereka melewati masa-masa sulit ini.
Semoga kisah bu Maryanti dapat menggugah empati kita semua dan memotivasi kita untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.